Makan malam lesehan di halaman belakang Istana Chowmahalla, Hyderabad, India, Kamis (3/12) malam, menandai berakhirnya Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia dan Forum Editor Dunia, 1-3 Desember 2009.
Sebanyak 886 peserta—penerbit dan pemimpin redaksi surat kabar—dari 89 negara bertemu tiga hari di
Kongres WAN itu sendiri dibuka Presiden India Pratibha Devi Singh Patil di Hyderabad International Convention Center (HICC). Pada saat pembukaan diserahkan Anugerah Pena Emas 2009 kepada Najaam
Dari Indonesia hadir perwakilan dari harian Kompas, harian Waspada Medan, Pikiran Rakyat Bandung, dan Harian Jakarta. CEO Grup Tempo Bambang Harymurti yang sedianya akan hadir sebagai pembicara dengan tema ”Kebebasan Pers” bersama dengan Najaam Sethi, penerima Pena Emas 2009, tak jadi hadir.
Realitas
Dipilihnya Hyderabad sebagai tempat Kongres Surat Kabar Dunia ke-62 dan Forum Editor Dunia ke-16 memang mengejutkan. ”Saya juga terkejut,” ujar Tony Joseph, CEO Mindworks Global Media Service, kelahiran India yang tinggal di New York.
Ketidaksiapan infrastruktur di luar lokasi kongres HICC
Hyderabad adalah ibu kota Andhra Pradesh, sebuah negara bagian dengan populasi lebih dari 80 juta penduduk dengan bahasa lokal Telugu sebagai bahasa utama penduduknya.
Dibandingkan dengan Kongres WAN 2008 di Gothenburg, Swedia, situasi di Hyderabad memang terasa jauh bedanya. Dari sisi jumlah partisipan,
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Hyderabad yang dipilih sebagai tuan rumah dan bukannya New Delhi atau Mumbai? Kesiapan infrastruktur HICC mungkin menjadi salah satu jawaban meski lokasinya jauh dari pusat kota. Tersedia ruang sidang yang luas guna menampung lebih dari 1.000 peserta tampaknya menjadi alasan tempat itu dipilih.
Istana Chowmahalla adalah tempat terakhir dari diskusi tiga hari yang tak kunjung berakhir mengenai industri surat kabar global. Kongres WAN dan WEF 2010 akan digelar di Beirut, Lebanon, 7-10 Juni 2010, dengan surat kabar An-Nahar sebagai tuan rumah.
Kontras dan senjang
Kamis malam, 3 Desember itu, dengan diterangi bulan purnama dan lampu sorot yang temaram, penerbit dan pemimpin redaksi dunia duduk lesehan menyantap makan malam khas India selatan.
Chowmahalla adalah istana dengan arsitektur yang unik dan elegan, dibangun 200 tahun lalu, serta merupakan peninggalan Dinasti Asaf Jahi. Namun, istana yang megah dan mewah itu kini tak sepenuhnya terawat. Meski kondisinya tak terawat, kesan megah dan mewah tetap terpancar.
Sebelum makan malam lesehan, tuan rumah, The Indian Newspaper Society dan The Telugu Daily, di Hyderabad menyuguhi sekitar 800 peserta kongres dengan serial tarian
Kontras! Kesan itu memang tak bisa dibantah. Istana yang megah dan glamor itu berbeda 180 derajat jika kita berjalan ke luar istana. Pengemis berada di sejumlah tempat. Gubuk-gubuk kumuh tampak di depan mata yang dengan mudah disaksikan para penerbit dan editor dunia.
Itulah potret India, dan khususnya Hyderabad. Untuk sebuah hajatan internasional yang besar, Hyderabad menampilkan wajahnya yang nyata. Tak ada upaya untuk melakukan pembersihan lebih dahulu terhadap sesuatu yang tak enak dipandang mata, sebagaimana sering dijumpai di kota-kota di Indonesia.
Pemimpin Redaksi Harian Waspada Tribuana Said dalam percakapan dengan Kompas mengutarakan, dalam beberapa tahun ke depan, Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) dan Pemerintah Indonesia perlu memikirkan untuk menjadi tuan rumah kongres. ”Biayanya memang besar sehingga harus didukung pemerintah. Akan tetapi, dengan menjadi tuan rumah, kita bisa memanfaatkan sebagai upaya pencitraan mengenai Indonesia. Itu promosi yang luar biasa,” ujarnya.
Dari sisi kesiapan dan infrastruktur, Indonesia punya
Menurut Tribuana, Indonesia sendiri sudah pernah punya rencana untuk menjadi tuan rumah WAN pada saat Presiden Soeharto berkuasa. Delegasi besar dikirimkan untuk memuluskan rencana itu. Namun, rencana itu diurungkan karena
Meski belum mempunyai media seusia The Hindus yang terbit pertama kali 1878, perjalanan pers Indonesia juga punya sejarah panjang. Dari masa pers perjuangan, pers yang dikontrol, hingga pers yang bebas pada saat sekarang ini.
Kongres WAN dan WEF bukan hanya soal seminar mengenai media dan teknologi, tetapi juga sebuah ajang untuk saling belajar dan menimba pengalaman jatuh dan bangunnya berbagai surat kabar di seluruh dunia. Kongres tersebut juga menjadi wahana bertemunya para
Kongres merupakan wahana dialog antara idealisme dan bisnis; antara barat dan timur; antara editorial dan komersial;