Kongres surat kabar

Dari Hyderabad ke Beirut

Kompas.com - 11/12/2009, 05:42 WIB

Makan malam lesehan di halaman belakang Istana Chowmahalla, Hyderabad, India, Kamis (3/12) malam, menandai berakhirnya Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia dan Forum Editor Dunia, 1-3 Desember 2009.

Sebanyak 886 peserta—penerbit dan pemimpin redaksi surat kabar—dari 89 negara bertemu tiga hari di Hyderabad untuk membicarakan tren surat kabar global. Surat kabar di berbagai belahan dunia berada di bawah tekanan akibat turunnya penerimaan iklan akibat krisis ekonomi global maupun stagnasi dari sisi tiras. India termasuk pengecualian karena surat kabarnya tetap tumbuh pesat. Bahkan, The Times of India telah menjadi surat kabar berbahasa Inggris dengan tiras terbesar di dunia. Tirasnya telah menembus 4 juta eksemplar.

Kongres WAN itu sendiri dibuka Presiden India Pratibha Devi Singh Patil di Hyderabad International Convention Center (HICC). Pada saat pembukaan diserahkan Anugerah Pena Emas 2009 kepada Najaam Sethi, mantan Pemimpin Redaksi The Friday Times dan The Daily Times yang terbit di Pakistan. Najaam dinilai berjasa dalam upayanya tetap memperjuangkan kebebasan pers. Sebagai tuan rumah, India mengirim delegasi terbanyak, termasuk di antaranya Ravindra Dhariwal, CEO Penerbit Bennet, Coleman and Co yang menerbitkan koran The Times of India, surat kabar berbahasa Inggris terbesar di dunia.

Dari Indonesia hadir perwakilan dari harian Kompas, harian Waspada Medan, Pikiran Rakyat Bandung, dan Harian Jakarta. CEO Grup Tempo Bambang Harymurti yang sedianya akan hadir sebagai pembicara dengan tema ”Kebebasan Pers” bersama dengan Najaam Sethi, penerima Pena Emas 2009, tak jadi hadir.

Realitas

Dipilihnya Hyderabad sebagai tempat Kongres Surat Kabar Dunia ke-62 dan Forum Editor Dunia ke-16 memang mengejutkan. ”Saya juga terkejut,” ujar Tony Joseph, CEO Mindworks Global Media Service, kelahiran India yang tinggal di New York.

Ketidaksiapan infrastruktur di luar lokasi kongres HICC terasa memprihatinkan. HICC sendiri terletak jauh di pinggiran kota Hyderabad. Dalam perjalanan menuju lokasi kongres dengan mudah dilihat potret riil India, gubuk dan tenda di pinggir jalan, pengemis, dan lalu lintas yang semrawut, yang dibiarkan sebagaimana adanya.

Hyderabad adalah ibu kota Andhra Pradesh, sebuah negara bagian dengan populasi lebih dari 80 juta penduduk dengan bahasa lokal Telugu sebagai bahasa utama penduduknya.

Dibandingkan dengan Kongres WAN 2008 di Gothenburg, Swedia, situasi di Hyderabad memang terasa jauh bedanya. Dari sisi jumlah partisipan, Gothenburg jauh lebih banyak. Tapi itu boleh jadi karena Gothenburg mudah dicapai oleh delegasi dari Eropa.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Hyderabad yang dipilih sebagai tuan rumah dan bukannya New Delhi atau Mumbai? Kesiapan infrastruktur HICC mungkin menjadi salah satu jawaban meski lokasinya jauh dari pusat kota. Tersedia ruang sidang yang luas guna menampung lebih dari 1.000 peserta tampaknya menjadi alasan tempat itu dipilih.

Istana Chowmahalla adalah tempat terakhir dari diskusi tiga hari yang tak kunjung berakhir mengenai industri surat kabar global. Kongres WAN dan WEF 2010 akan digelar di Beirut, Lebanon, 7-10 Juni 2010, dengan surat kabar An-Nahar sebagai tuan rumah.

Kontras dan senjang

Kamis malam, 3 Desember itu, dengan diterangi bulan purnama dan lampu sorot yang temaram, penerbit dan pemimpin redaksi dunia duduk lesehan menyantap makan malam khas India selatan.

Chowmahalla adalah istana dengan arsitektur yang unik dan elegan, dibangun 200 tahun lalu, serta merupakan peninggalan Dinasti Asaf Jahi. Namun, istana yang megah dan mewah itu kini tak sepenuhnya terawat. Meski kondisinya tak terawat, kesan megah dan mewah tetap terpancar.

Sebelum makan malam lesehan, tuan rumah, The Indian Newspaper Society dan The Telugu Daily, di Hyderabad menyuguhi sekitar 800 peserta kongres dengan serial tarian India dari 1950-an hingga 2000-an. Malam itu dinamai ”Bollywood Nite”, sebuah sajian tarian romantis penari wanita dan pria dari Bollywood.

Kontras! Kesan itu memang tak bisa dibantah. Istana yang megah dan glamor itu berbeda 180 derajat jika kita berjalan ke luar istana. Pengemis berada di sejumlah tempat. Gubuk-gubuk kumuh tampak di depan mata yang dengan mudah disaksikan para penerbit dan editor dunia.

Itulah potret India, dan khususnya Hyderabad. Untuk sebuah hajatan internasional yang besar, Hyderabad menampilkan wajahnya yang nyata. Tak ada upaya untuk melakukan pembersihan lebih dahulu terhadap sesuatu yang tak enak dipandang mata, sebagaimana sering dijumpai di kota-kota di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Harian Waspada Tribuana Said dalam percakapan dengan Kompas mengutarakan, dalam beberapa tahun ke depan, Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) dan Pemerintah Indonesia perlu memikirkan untuk menjadi tuan rumah kongres. ”Biayanya memang besar sehingga harus didukung pemerintah. Akan tetapi, dengan menjadi tuan rumah, kita bisa memanfaatkan sebagai upaya pencitraan mengenai Indonesia. Itu promosi yang luar biasa,” ujarnya.

Dari sisi kesiapan dan infrastruktur, Indonesia punya peluang menjadi tuan rumah WAN dalam waktu lima tahun ke depan. Tempatnya bisa saja di Jakarta ataupun di Bali. Lokasi sidang tersedia untuk sebuah ajang konferensi internasional.

Menurut Tribuana, Indonesia sendiri sudah pernah punya rencana untuk menjadi tuan rumah WAN pada saat Presiden Soeharto berkuasa. Delegasi besar dikirimkan untuk memuluskan rencana itu. Namun, rencana itu diurungkan karena problem politik.

Meski belum mempunyai media seusia The Hindus yang terbit pertama kali 1878, perjalanan pers Indonesia juga punya sejarah panjang. Dari masa pers perjuangan, pers yang dikontrol, hingga pers yang bebas pada saat sekarang ini.

Kongres WAN dan WEF bukan hanya soal seminar mengenai media dan teknologi, tetapi juga sebuah ajang untuk saling belajar dan menimba pengalaman jatuh dan bangunnya berbagai surat kabar di seluruh dunia. Kongres tersebut juga menjadi wahana bertemunya para konsultan media dengan pengelola media serta industri penopang media dan pengelola media.

Kongres merupakan wahana dialog antara idealisme dan bisnis; antara barat dan timur; antara editorial dan komersial; antara kebebasan dan tanggung jawab. Namun, di antara ”tegangan” itu, Hyderabad juga menyampaikan pesan bahwa ”Jurnalisme tak akan mati” asal jurnalisme tetap mendedikasikan dirinya untuk kepentingan publik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau