Balap Sepeda Berubah

Kompas.com - 12/12/2009, 04:43 WIB

LAUSANNE, KAMIS - Komite Olimpiade Internasional, Kamis (10/12), resmi menyetujui perubahan nomor balap sepeda trek pada Olimpiade 2012 sesuai dengan usulan Persatuan Balap Sepeda Internasional. Perubahan itu termasuk penghilangan nomor uji ketahanan yang ikonik.

Badan Eksekutif Komite Olimpiade Internasional (IOC) sepakat dengan program kesetaraan jender di cabang olahraga balap sepeda. Lima nomor akan dipertandingkan untuk pebalap putra dan putri, yakni individual sprint, tim sprint, keirin, tim pursuit, dan omnium atau pancalomba.

Dengan demikian, nomor uji ketahanan yang menjadi ikon balap sepeda, yakni individual pursuit 4.000 meter putra dan 3.000 meter putri, dihilangkan. Nomor point race putra-putri dan madison putra juga dihapus.

Dalam Olimpiade Beijing 2008, pebalap putra memperebutkan tujuh nomor dan pebalap putri hanya tiga nomor. Perubahan ini membikin pebalap putra dan putri menjadi setara.

Para pebalap sontak bereaksi. Juara dunia dari Amerika Serikat, Taylor Phinney (19), dan juara olimpiade dua kali asal Inggris, Bradley Wiggins, menentangnya.

Phinney menulis pesan lewat jejaring internet Twitter, ”Perjuangan kita gagal.”

”Mengecewakan, tetapi ini bukan wewenang kami. Sungguh drastis langsung kehilangan tiga nomor uji ketahanan dan diganti omnium, yang menurut pendapat saya nomor yang tak layak ditonton. Namun, pendapat kami kan tidak penting, kami hanya pebalap biasa,” ujar Wiggins.

Kekesalan serupa disampaikan juara pursuit putri asal Inggris, Rebecca Romero, yang menyebut perubahan ini menggelikan. ”Ini sangat radikal, saya tak paham alasannya. Saya sepakat kesetaraan jender, tetapi bukan dengan cara yang bisa menghancurkan dunia balap sepeda,” katanya di radio BBC London.

Namun, ada juga yang senang dengan perubahan ini, yakni juara sprint Olimpiade Beijing asal Inggris, Victoria Pendleton. ”Keputusan ini bagus untuk pebalap putri seluruh dunia,” katanya.

Format lebih menarik

Presiden IOC Jacques Rogge berujar, komite hanya mengikuti rekomendasi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI). ”Format baru akan lebih menarik, begitu masukan UCI. Pasti banyak pebalap yang kecewa, itu sangat bisa dipahami. Namun, Badan Eksekutif UCI mempertimbangkan format baru yang jauh lebih menarik,” katanya.

Rogge mengimbuhkan, perubahan itu wewenang UCI, bukan IOC. UCI juga melakukan survei sebelumnya. ”UCI berkeras, program ini adalah pengembangan baru dan mampu meningkatkan popularitas di mata penonton,” ujarnya.

Nomor individual bisa jadi sangat populer di negara yang merebut medali pada nomor itu. Namun, itu tak terjadi di negara lain yang tak punya pebalap tangguh. Negara yang banyak meraup medali, kata Rogge, tidak mewakili pandangan dunia.

Dari London, Presiden UCI Pat McQuaid berujar, berbagai protes datang dari pebalap yang memang juara di nomor yang dihilangkan. Padahal, UCI memandang balap sepeda sebagai gambaran besar guna masa depan olahraga ini.

Tenis ganda campuran

Perubahan juga terjadi di tenis lapangan. IOC menyepakati proposal dari Federasi Tenis Internasional (ITF) soal masuknya 16 tim ganda campuran pada Olimpiade 2012, tepatnya akan diselenggarakan di Wimbeldon.

Ganda campuran akan membawa nilai lebih, apalagi jika pemain tunggal turut serta. Selama ini, pemain tunggal top dunia jarang ikut nomor ganda.

Tenis ganda campuran pernah dimainkan beberapa kali di olimpiade tahun 1900-1924. Tahun 1924, misalnya, peraih medali emas adalah duet Richard Williams dan Hazel Wightman.

Tenis dihilangkan di olimpiade setelah tahun 1924 dan dirangkul kembali tahun 1988 tanpa ganda campuran. Keputusan IOC soal tenis ini disambut baik Presdien ITF Francesco Ricci Bitti.

”Kami percaya, penambahan ini menjadikan tenis di olimpiade menjadi laga yang unik. Pemain top berkesempatan berjuang untuk negaranya,” kata Bitti. (REUTERS/AP/AFP/IVV)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau