Nova Antar Regu Putera Raih Emas

Kompas.com - 13/12/2009, 17:17 WIB

Vientiane, Kompas.com -  Keputusan Indonesia menurunkan pasangan dadakan membuahkan hasil, ketika Nova Widhyanto dan Muhammad Ahsan dipasangkan dalam pertandingan menentukan yang membuat Indonesia menang 3-1 atas Malaysia.

Pada partai final di Kompleks Olahraga Nasional Vientiane, Minggu, Nova langsung berteriak gembira ketika bola penempatannya di sisi kiri belakang lapangan lawan tidak terjangkau pemain Malaysia sehingga memastikan kemenangan telak 21-18, 21-17 atas pasangan M. Fairuzizuan/M. Zakry Abd. Latif.

Tunggal pertama Sony Dwi Kuncoro meraih angka pertama untuk Indonesia setelah berjuang tiga game untuk mengalahkan Muhammad Hafiz dengan skor 22-20, 14-21, 21-12.

Malaysia sempat berhasil menyamakan kedudukan 1-1 ketika ganda pertama Koo Kien Kiet/Tan Bon Heong menaklukkan juara Olimpiade 2008 Beijing Markis Kido/Hendra Setiawan dengan skor 21-19, 20-22, 10-21.

Simon kembali membuat Indonesia unggul 2-1 berkat kemenangan dua game langsung atas Kuan Beng Hong 21-18, 21-13.

Indonesia pun menampilkan kejutan pada ganda kedua karena menurunkan pasangan yang tidak lazim, yaitu Nova Widhyanto dan Muhammad Ahsan.

Nova yang bersama Liliyana Natsir meraih perak di Olimpiade 2008 Beijing, selama ini dikenal sebagai spesialis ganda campuran dan tidak pernah bermain sebagai ganda putra, sementara M. Ahksan selama ini berpasangan dengan Bona Septiano.

Dengan memasang pasangan tak lazim itu, pasangan Malaysia yang dilatih Rexy Mainaky tampak kaget karena tidak menduga perubahan yang dilakukan Indonesia.

Pertandingan ganda putra tersebut juga menjadi persaingan kakak beradik karena ganda Indonesia dilatih oleh Richard Mainaky yang tidak lain adalah kakak kandung Rexy.

Usai pertandingan, Ahsan mengatakan bahwa ia selama ini sama sekali tidak pernah berpasangan dengan Nova, baik dalam latihan sekali pun. "Di Cipayung, saya dalam latihan sehari-hari pun tidak pernah berpasangan dengan Nova. Kita memang ingin memberikan kejutan. Kalau lawan tidak kaget, mungkin malah kita yang kaget," kata Ahsan usai pertandingan.

Sementara itu manajer tim Jacob Rusdiyanto mengatakan bahwa ia sangat gembira dengan hasil tersebut, terutama dengan keberhasilan ganda dadakan tersebut. Ia juga memuji penampilan Nova yang ternyata bisa menjalankan tugas dengan baik. "Malaysia memang lebih diunggulkan dalam beregu putra ini, maka kita mencoba mengubah strategi dengan menurunkan pasangan dadakan," kata Jacob.

Pada awal pertandingan, pasangan dadakan tersebut belum bisa menyesuaikan diri dengan baik karena Ahsan banyak melakukan kesalahan, terutama saat berada di depan net. Akibatnya mereka sempat tertinggal jauh 4-11 sebelum secara perlahan mulai memperkecil selisih ketinggalan menyamakan kedudukan menjadi 18-18. Mereka kemudian berhasil mengunci perolehan angka pasangan Malaysia tersebut untuk merebut game pertama dengan skor 21-18.

Pada game kedua, Nova/Ahsan kembali tertinggal lebih dulu 0-4 kemudian berbalik unggul 17-14. Pasangan Indonesia tersebut mulai mendapat rasa percaya diri dan dengan mudah merebut set kedua 21-17 untuk memastikan emas pertama Indonesia dari cabang bulutangkis.

Indonesia berpeluang untuk menambah satu emas lagi untuk mencapai target minimal lima emas ketika beregu putri Indonesia juga akan bertemu Malaysia di final yang berlangsung pada hari yang sama.

Di SEA Games 2007 lalu, tim bulutangkis Indonesia berhasil menyapu bersih seluruh tujuh emas yang diperebutkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau