Menjadi "Sang Pemimpi" Bersama Anak Belitung

Kompas.com - 16/12/2009, 00:44 WIB

Oleh Wuryanti Puspitasari

"Jelajahi Indonesiamu yang luas, jengkali Afrika yang eksotis, jelajahi Eropa yang megah," demikian seorang guru dalam film "Sang Pemimpi" mengutipkan kata-kata mutiara kepada para muridnya di sebuah sekolah menengah atas (SMA) di Pulau Belitung.

Tak disangka, kata-kata tersebut memacu semangat tiga remaja melayu yang hidup di pedalaman Bangka Belitung pada 1980-an untuk meraih beasiswa pendidikan di luar negeri.

Tiga remaja tersebut adalah Ikal, anak keluarga pekerja rendahan di Perusahaan Negara Timah bersama Arai, sepupunya, dan Jimbron, sahabatnya.

Karena tak ada sekolah menengah di desanya, ketiganya harus merantau ke kota pelabuhan Manggar yang berjarak puluhan kilometer untuk melanjutkan sekolah.

Mereka tumbuh bersama, menjalani berbagai kehidupan masa remaja dengan segala tantangan dan perjuangan hidup serta problematika masa remaja untuk meraih cita-cita dan impian.

Semangat mereka makin memuncak ketika sang guru, dengan kata-kata mutiara tersebut memberikan mereka inspirasi untuk mengejar mimpi meraih pendidikan di Eropa.

Berbagai masalah mereka hadapi dalam proses mengejar mimpi tersebut. Mulai dari soal sekolah dan bertahan hidup hingga masalah cinta.

Ada persoalan cinta Arai pada Zakia Nurmala yang kerap tak diacuhkan, cinta Jimbron pada seorang gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum, dan cinta ikal pada sang ayah yang membawanya pada perasaan bersalah saat nilai-nilai di sekolahnya sempat turun drastis.

Namun rasa bersalah pada sang ayah membuat ia bangkit dan membuat para pemimpi lainnya kembali bersemangat untuk berlari bersama dan mewujudkan cita-cita, harapan, dan cinta.

Satu persatu simpul-simpul kesulitan hidup untuk mencapai mimpi berhasil mereka buka dan selesaikan.

Akhirnya, Ikal dan Arai berhasil diterima untuk melanjutkan pendidikan studi strata satu di Universitas Indonesia. Sementara Jimbron memutuskan untuk tidak berkuliah dan melanjutkan hidup di Pulau Belitung, dengan mimpinya sederhana yakni menikah, punya anak, dan hidup damai.

Namun cerita tidak berhenti di situ, karena film Sang Pemimpi masih melanjutkan cerita tentang proses menuju mimpi anak-anak dari Pulau Belitung tersebut hingga mendapatkan beasiswa pendidikan pascasarjana di Eropa.

"Sanggupkah mereka meraih mimpinya?" pertanyaan tersebut akan terjawab dengan indah dalam film Sang Pemimpi.

Dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi pulau terkaya di Indonesia, film yang mengambil latar di era 80-an itu dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran dan kisah perjuangan hidup yang mengharukan untuk menggapai mimpi, keindahan persahabatan dan cinta kasih yang tulus antara anak dan ayah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau