Thaksin Ceramahi Para Menteri soal Ekonomi

Kompas.com - 16/12/2009, 08:05 WIB

PHNOM PENH, KOMPAS.com — Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra yang kini menjadi pelarian politik, Selasa (15/12/2009), memulai tugasnya sebagai penasihat Perdana Menteri Kamboja dengan memberikan ceramah kepada para menteri Kamboja mengenai bagaimana mengembangkan ekonomi pada saat resesi global saat ini.

Kegiatan Thaksin tersebut tertutup untuk media-media berbahasa asing, tetapi media-media lokal melaporkan, Thaksin berbicara di Dewan untuk Pembangunan Kamboja yang diikuti 20 sampai 30 menteri senior dan wakil-wakilnya.

Wartawan setempat mengungkapkan, miliuner raja telekomunikasi Thailand itu berbicara mengenai bagaimana mengembangkan ekonomi negara yang miskin itu di tengah krisis finansial yang berpengaruh ke seluruh dunia dan mendiskusikan reformasi pertanian.

Thaksin tiba di Phnom Penh, Minggu (13/12/2009), dan Pemerintah Kamboja memberikan ”hadiah” kedatangannya dengan pelepasan Sivarak Chothipong, Senin (14/12/2009). Dia adalah seorang pekerja Thailand di Perusahaan Pengatur Lalu Lintas Udara Kamboja, yang dipenjarakan karena memata-matai kunjungan Thaksin sebelumnya.

Sivarak (31) dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun, pekan lalu, karena menyuplai jadwal penerbangan Thaksin kepada Kedutaan Besar Thailand. Namun, dia dilepaskan dari penjara Prey Sar setelah mendapatkan maaf dari Raja Norodom Sihamoni.

Penangkapan Sivarak bulan lalu sempat menimbulkan ketegangan diplomatik lain antara Kamboja dan Thailand.

Kedua negara sebelumnya telah menarik duta besar masing-masing akibat perselisihan terkait penunjukan Thaksin sebagai penasihat ekonomi Pemerintah Kamboja.

Marah karena kehadiran Thaksin di Kamboja, Thailand juga telah membatalkan semua pembicaraan dan kerja sama dengan negara tetangganya itu serta merusak kesepakatan eksplorasi minyak dan gas yang ditandatangani semasa Thaksin masih menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand.

Thaksin tinggal di luar negeri, sebagian besar di Dubai, untuk menghindari hukuman penjara dua tahun yang dijatuhkan kepadanya oleh sebuah pengadilan Thailand pada September 2008.

Thaksin yang memenangi dua kali pemilihan umum di Thailand, dan tetap merupakan tokoh politik yang berpengaruh di tanah airnya, terus mengendalikan aksi-aksi protes oleh para pendukung ”baju merahnya” terhadap Pemerintah Thailand saat ini.

Kritik Thaksin

Thaksin, Senin, mengkritik Pemerintah Thailand karena menggunakan seorang warga Thailand untuk melakukan tindakan mata-mata, di tengah ketegangan diplomatik Thailand-Kamboja.

”Dia digunakan oleh kementerian luar negeri (Thailand),” tutur Thaksin setelah bertemu PM Kamboja Hun Sen.

Sebaliknya, banyak komentator di Thailand meyakini, Thaksin dan Hun Sen menggunakan masalah mata-mata itu untuk menyulut ketegangan dan mendiskreditkan Pemerintah Thailand. Banyak yang meyakini, vonis dan pemberian maaf itu sudah direncanakan sejak awal.

Di situs Twitter-nya, Thaksin mengatakan, Sivarak digunakan sebagai sebuah alat dengan cara yang khas Thailand. Banyak pengkritik menganggap kunjungan Thaksin dan perannya dalam mengupayakan maaf sebagai upaya mengangkat popularitasnya, di tengah buruknya popularitas Pemerintah Thailand saat ini, yang dipimpin PM Abhisit. (AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau