PHNOM PENH, KOMPAS.com Kegiatan Thaksin tersebut tertutup untuk media-media berbahasa asing, tetapi media-media lokal melaporkan, Thaksin berbicara di Dewan untuk Pembangunan Kamboja yang diikuti 20 sampai 30 menteri senior dan wakil-wakilnya. Wartawan setempat mengungkapkan, miliuner raja telekomunikasi Thailand itu berbicara mengenai bagaimana mengembangkan ekonomi negara yang miskin itu di tengah krisis finansial yang berpengaruh ke seluruh dunia dan mendiskusikan reformasi pertanian. Thaksin tiba di Phnom Penh, Minggu (13/12/2009), dan Pemerintah Kamboja memberikan ”hadiah” kedatangannya dengan pelepasan Sivarak Chothipong, Senin (14/12/2009). Dia adalah seorang pekerja Thailand di Perusahaan Pengatur Lalu Lintas Udara Kamboja, yang dipenjarakan karena memata-matai kunjungan Thaksin sebelumnya. Sivarak (31) dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun, pekan lalu, karena menyuplai jadwal penerbangan Thaksin kepada Kedutaan Besar Thailand. Namun, dia dilepaskan dari penjara Prey Sar setelah mendapatkan maaf dari Raja Norodom Sihamoni. Penangkapan Sivarak bulan lalu sempat menimbulkan ketegangan diplomatik lain antara Kamboja dan Thailand. Kedua negara sebelumnya telah menarik duta besar masing-masing akibat perselisihan terkait penunjukan Thaksin sebagai penasihat ekonomi Pemerintah Kamboja. Marah karena kehadiran Thaksin di Kamboja, Thailand juga telah membatalkan semua pembicaraan dan kerja sama dengan negara tetangganya itu serta merusak kesepakatan eksplorasi minyak dan gas yang ditandatangani semasa Thaksin masih menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand. Thaksin tinggal di luar negeri, sebagian besar di Dubai, untuk menghindari hukuman penjara dua tahun yang dijatuhkan kepadanya oleh sebuah pengadilan Thailand pada September 2008. Thaksin yang memenangi dua kali pemilihan umum di Thailand, dan tetap merupakan tokoh politik yang berpengaruh di tanah airnya, terus mengendalikan aksi-aksi protes oleh para pendukung ”baju merahnya” terhadap Pemerintah Thailand saat ini. Thaksin, Senin, mengkritik Pemerintah Thailand karena menggunakan seorang warga Thailand untuk melakukan tindakan mata-mata, di tengah ketegangan diplomatik Thailand-Kamboja. ”Dia digunakan oleh kementerian luar negeri (Thailand),” tutur Thaksin setelah bertemu PM Kamboja Hun Sen. Sebaliknya, banyak komentator di Thailand meyakini, Thaksin dan Hun Sen menggunakan masalah mata-mata itu untuk menyulut ketegangan dan mendiskreditkan Pemerintah Thailand. Banyak yang meyakini, vonis dan pemberian maaf itu sudah direncanakan sejak awal. Di situs