KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Ketua Delegasi RI (Delri) Rachmat Witoelar mengatakan, sebenarnya ada niat baik dari negara-negara maju untuk menyukseskan KTT (COP) ke-15 Perubahan Iklim UNFCCC dengan menargetkan pengurangan emisi karbon dioksidanya.
"Sebenarnya tidak banyak substansi yang berbeda dalam perundingan, bahwa negara maju tahu mereka mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, dan mereka akan memberikan itu. Negara berkembang juga tahu dan menerima itu," kata Rachmat saat bertemu dengan wartawan Indonesia di sela-sela konferensi di Kopenhagen, Rabu.
Akan tetapi, dalam penyampaian di konferensi, sering kali niat baik negara maju tidak diterima dengan baik oleh pihak lain. "Saya simpulkan ada komunikasi yang berjalan tidak baik di antara dua kelompok besar ini (negara maju dan negara berkembang)," jelasnya.
Rachmat mengatakan, sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepadanya, agar Indonesia dapat berperan menjadi penengah, penyejuk, dan pemberi solusi terhadap masalah di COP-15 yang memanas. "Jangan sampai kita mengikuti emosi yang berlebihan dan kita berpegang pada konsistensi Peta Jalan Bali," katanya.
Rachmat juga mengungkapkan hasil pertemuannya dengan delegasi dari Inggris dan Amerika yang meminta Indonesia bisa menjadi katalisator penyelesaian masalah di COP-15 Kopenhagen. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup itu juga mengatakan bahwa Inggris dan Amerika siap membuktikan untuk membantu negara berkembang dengan memulai membantu Indonesia.
"Dua negara maju itu akan mulai menolong negara berkembang dengan Indonesia, karena Indonesia dinilai mempunyai sesuatu kelebihan yaitu bisa memberikan prestasi konkret," katanya.
Prestasi konkret yang dimaksud yaitu adanya niat dan strategi pengurangan emisi karbon secara sukarela sebesar 26 persen pada 2020. Melihat perkembangan perundingan yang mandek pada level menteri dan negosiator, Rachmat memprediksi hasil keputusan COP-15 akan berupa keputusan politik para kepala negara dan kepala pemerintahan.
"Permasalahan yang ada bisa diselesaikan pada level kepala negara dan kepala pemerintahan dengan membuat satu keputusan KTT. Kalau itu bisa dilakukan, maka konferensi ini bisa dikatakan sukses," katanya.
Dan kunci semua permasalahan tersebut, menurut Ketua Delri itu, ada pada Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
"Saya rasa kalau Obama bisa menyampaikan sesuatu yang menyejukkan orang lain dan disambut dengan baik oleh orang lain, itu adalah bagus," tambah Rachmat.