Rachmat: Keputusan Kopenhagen Tergantung Obama

Kompas.com - 17/12/2009, 06:02 WIB

KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Ketua Delegasi RI (Delri) Rachmat Witoelar mengatakan, sebenarnya ada niat baik dari negara-negara maju untuk menyukseskan KTT (COP) ke-15 Perubahan Iklim UNFCCC dengan menargetkan pengurangan emisi karbon dioksidanya.

"Sebenarnya tidak banyak substansi yang berbeda dalam perundingan, bahwa negara maju tahu mereka mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, dan mereka akan memberikan itu. Negara berkembang juga tahu dan menerima itu," kata Rachmat saat bertemu dengan wartawan Indonesia di sela-sela konferensi di Kopenhagen, Rabu.

Akan tetapi, dalam penyampaian di konferensi, sering kali niat baik negara maju tidak diterima dengan baik oleh pihak lain. "Saya simpulkan ada komunikasi yang berjalan tidak baik di antara dua kelompok besar ini (negara maju dan negara berkembang)," jelasnya.
     
Rachmat mengatakan, sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepadanya, agar Indonesia dapat berperan menjadi penengah, penyejuk, dan pemberi solusi terhadap masalah di COP-15 yang memanas. "Jangan sampai kita mengikuti emosi yang berlebihan dan kita berpegang pada konsistensi Peta Jalan Bali," katanya.

Rachmat juga mengungkapkan hasil pertemuannya dengan delegasi dari Inggris dan Amerika yang meminta Indonesia bisa menjadi katalisator penyelesaian masalah di COP-15 Kopenhagen. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup itu juga mengatakan bahwa Inggris dan Amerika siap membuktikan untuk membantu negara berkembang dengan memulai membantu Indonesia.

"Dua negara maju itu akan mulai menolong negara berkembang dengan Indonesia, karena Indonesia dinilai mempunyai sesuatu kelebihan yaitu bisa memberikan prestasi konkret," katanya.

Prestasi konkret yang dimaksud yaitu adanya niat dan strategi pengurangan emisi karbon secara sukarela sebesar 26 persen pada 2020. Melihat perkembangan perundingan yang mandek pada level menteri dan negosiator, Rachmat memprediksi hasil keputusan COP-15 akan berupa keputusan politik para kepala negara dan kepala pemerintahan.
     
"Permasalahan yang ada bisa diselesaikan pada level kepala negara dan kepala pemerintahan dengan membuat satu keputusan KTT. Kalau itu bisa dilakukan, maka konferensi ini bisa dikatakan sukses," katanya.

Dan kunci semua permasalahan tersebut, menurut Ketua Delri itu, ada pada Presiden Amerika Serikat Barack Obama.


"Saya rasa kalau Obama bisa menyampaikan sesuatu yang menyejukkan orang lain dan disambut dengan baik oleh orang lain, itu adalah bagus," tambah Rachmat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau