Bubur Asyura Masih Mentradisi di Indragiri Hilir

Kompas.com - 27/12/2009, 17:53 WIB

TEMBILAHAN, KOMPAS.com - Masyarakat yang bermukim di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, hingga kini masih menjaga tradisi merayakan tanggal 10 Muharam dengan membuat bubur Asyura.

"Tiap tanggal 10 Muharam, kami membuat bubur Asyura. Biasanya membuatnya secara bergotong royong dengan para tetangga, tidak hanya saat memasaknya juga membeli bahan bakunya," kata Saniah salah seorang warga Tembilahan, Minggu (27/12/2009).

Saat ditemui di rumahnya di Jalan Pelita Jaya, Tembilahan, ia bersama beberapa tetangganya sedang sibuk membuat bubur Asyura. Bubur yang terdiri dari aneka sayuran, kacang-kacangan dan umbi-umbian serta berkuah santan itu dimasak dalam kuali besar. Campuran aneka bahan itu menghasilkan bubur yang kental.

Saniah mengatakan, untuk membeli bahan bakunya warga di lingkungan tempat tinggalnya mengumpulkan uang dan untuk memasaknya juga bersama-sama begitu juga saat menyantap bubur yang dibuat setahun sekali itu. "Walau tiap tahun saya membuat bubur Asyura namun saya tidak tahu pasti dengan tradisi ini," kata Saniah.

Ia mengatakan, biasanya bubur Asyura setelah dimasak lalu dimakan bersama-sama dengan terlebih dahulu dibacakan doa selamat.

Sementara itu tokoh ulama Inhil, KH Syarkawi Hasan mengatakan kemunculan bubur Asyura terjadi pada tahun kedua Hijriyah saat perang Tabuk. Menurut dia, bubur Asyura menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan peringatan Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam.

"Dalam Islam, setidaknya ada beberapa kejadian menunjukkan bahwa pada 10 Muharam terjadi peristiwa-persitiwa besar," kata Syarkawi. Di antaranya, pada tanggal 10 Muharam selamatnya Nabi Nuh dari banjir besar yang melanda negerinya. Pada tanggal tersebut Nabi Yunus dapat keluar dari perut ikan Nun.

Selain itu, pada 10 Muharram juga terjadi peristiwa lepasnya Nabi Ibrahim dari hukuman pembakaran yang dilakukan oleh Namruz. Juga sekaligus tanggal tersebut menandakan sebagai hari dibebaskannya Nabi Yusuf dari penjara.

"Karena banyaknya momen penting yang terkait dengan 10 Muharram, maka umat Muslim pun kemudian dianjurkan untuk berpuasa dan membaca sejumlah doa. Menjelang akhir hidupnya, Nabi Muhammad SAW, pun bahkan sempat menyarankan umat Islam agar berpuasa pada tanggal 9 sampai 10 Muharram," ujarnya Syarkawi.

Ia mengatakan, munculnya bubur Asyura terjadi di tengah berlangsungnya perang Tabuk yang berlangsung pada bulan Muharam. "Karena kejadian membuat bubur campur itu pertama kali pada tanggal 10 Muharam yang juga disebut hari Asyura, maka disebutlah bubur ini sebagai bubur Asyura," katanya.

Dijelaskannya, saat perang Tabuk terjadi krisis makanan. Sehingga Nabi Muhammad SAW meminta bahan makanan yang ada diolah menjadi bubur. Namun, bubur yang telah dimasak itu tidak cukup bagi prajurit yang ikut berperang.

"Akhirnya, Nabi membuat kebijakan, beliau sendiri yang membagikan bubur itu sehingga seluruh orang yang ada kebagian," kata Syarkawi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau