VENEZUELA, KOMPAS.com — Presiden Venezuela Hugo Chaves dilaporkan mengancam produsen otomotif terbesar di Jepang, Toyota, untuk angkat kaki dari negaranya. Pasalnya, pabrikan dianggap tak mematuhi undang-undang yang ditetapkan pemerintah.
Pemerintah Venzuela mewajibkan semua industri di Venezuela untuk melakukan alih teknologi ke industri lokal. Nah, orang nomor satu di Venezuela tersebut mendesak agar Toyota mau melakukan transfer teknologinya, termasuk metode manufaktur otomotif.
Chaves menyatakan, pemerintah sosialis di negaranya akan menerapkan kuota ketat terkait jumlah dan jenis kendaraan yang bisa diproduksi pabrik otomotif di Venezuela. Dia juga memerintahkan agar segera dilakukan inspeksi fasilitas untuk menentukan jumlah kendaraan Toyota yang boleh diproduksi. Demikian dikutip Leftlinenews, jelang Natal.
"Mereka harus memenuhi kuota. Kalau diabaikan, mereka bisa angkat kaki dari sini. Kami bisa membawa produsen mobil lain," ungkap Chaves.
Ia menambahkan, jika dalam inspeksi pemerintah ditemukan aktivitas produksi yang tak sesuai ketentuan yang berlaku atau tak cukup teknologi, maka Toyota akan menerima sanksi tegas. Salah satunya, pemerintah akan mengambil alih fasilitas perakitan mobil.
"Kami akan mengambilnya dari mereka, dan membayarnya (ke Toyota) sesuai dengan harganya. Selanjutnya, kami memanggil produsen asal China," ucap Chaves.
Mengutip Wall Street Journal, Chaves telah melakukan perubahan status lusinan perusahaan asing ke BUMN milik pemerintah. Langkah tersebut dilakukan sebagai salah satu realisasi dari paham sosialisme abad ke-21 yang coba ia raih.
Saat ini, Toyota memiliki pabrik perakitan mobil yang sudah berusia hingga 50 tahun di Venezuela. Pabrik ini mempekerjakan 2.000 tenaga kerja.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang