Ratusan mahasiswa menutup jalan-jalan utama di Jalalabad, ibu kota Provinsi Nangahar, di timur Afganistan, memprotes kematian sekitar 10 warga sipil, yang sebagian besar murid sekolah, pada operasi militer yang dipimpin AS, Sabtu (26/12).
”Pemerintah harus mencegah operasi-operasi sepihak seperti itu. Jika tidak, kami akan mengangkat senjata dan bertempur melawan mereka (pasukan-pasukan asing),” kata para mahasiswa dari Fakultas Pendidikan, Universitas Nangahar, dalam pernyataan mereka.
Sejumlah saksi mata mengungkapkan, para mahasiswa berpawai melalui jalan-jalan utama di Jalalabad sambil meneriakkan ”kematian bagi Obama” dan ”kematian bagi pasukan-pasukan asing”. Para pemrotes juga membakar sebuah bendera AS dan gambar patung Obama di sebuah lapangan umum di pusat Jalalabad, kemudian akhirnya mereka membubarkan diri.
”Demonstrasi kami adalah untuk menentang para warga asing yang datang ke negeri kami. Mereka tidak membawa demokrasi ke Afganistan, tetapi mereka membunuhi para intelektual agama dan anak-anak,” ujar Safiullah Aminzai, seorang aktivis mahasiswa yang ikut dalam aksi demonstrasi itu.
Kematian warga sipil dalam perang yang telah berlangsung delapan tahun di Afganistan merupakan isu sensitif bagi warga Afganistan dan kerap memicu ketegangan antara Presiden Hamid Karzai dan sekitar 113.000 tentara asing yang mendukung pemerintahannya.
Aksi protes serupa direncanakan akan digelar di Kabul untuk menentang pembunuhan warga sipil, khususnya dalam pembunuhan para siswa baru-baru ini di Kunar.
”Demonstrasi ini untuk menunjukkan kebencian, kemarahan, dan kesedihan atas situasi saat ini,” kata Sayed Khalid Rashid, pengorganisasi dari sayap pemuda Jamiat Eslah atau Masyarakat Afganistan untuk Reformasi Sosial dan Pembangunan.
Operasi di wilayah Kunar, yang berbatasan dengan Pakistan, menurut seorang perwira senior Barat, dipimpin oleh pasukan khusus AS. ”Mereka telah membunuh banyak Taliban dan menangkap banyak Taliban,” kata perwira itu sambil membenarkan bahwa operasi dilakukan terpisah dari pasukan NATO dan koalisinya yang bertempur untuk membasmi Taliban.
Presiden Karzai langsung mengirim tim penyelidik ke Kunar, yang dipimpin Asadullah Wafa. Wafa mengatakan, dia telah bertemu para pejabat dan warga di Distrik Narang, di selatan ibu kota Provinsi Asad Abad. Dari hasil penyelidikan disimpulkan bahwa warga sipil, termasuk sejumlah pelajar, memang tewas akibat serangan pasukan asing pekan lalu. Kesimpulan itu membantah laporan NATO yang mengatakan bahwa para pemberontak yang menjadi korban.
Wafa menambahkan, delapan pelajar, berusia antara 12 dan 14 tahun, ditemukan tewas di sebuah rumah di Distrik Narang, Provinsi Kunar.
PBB pekan ini mengeluarkan angka yang menunjukkan bahwa korban warga sipil meningkat 10,8 persen pada 10 bulan pertama 2009, yaitu sebanyak 2.038 jiwa. Jumlah itu naik dari periode yang sama tahun 2008, sebanyak 1.838 jiwa.