Gurat Perjalanan Sepak Bola 2009

Kompas.com - 31/12/2009, 22:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam hitungan jam, tahun 2009 akan berlalu. Namun, ada sejumlah rekaman dalam otak kita yang tak akan mudah tertindih oleh gurat pengalaman baru. Bagi para penggila bola, tahun 2009 juga meninggalkan sejumlah momen bersejarah dan kontroversial, yang kadarnya nyaris tak mungkin terulang atau tersaingi oleh peristiwa lain di 2010, kecuali mungkin oleh Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Berikut adalah beberapa di antaranya.

Treble Barcelona
Barcelona menorehkan sejarah sebagai klub Spanyol pertama yang mampu meraih tiga gelar. Dengan prestasi ini, meski belum mampu menyamai koleksi trofi Liga Champions dan Divisi Primera Real Madrid, Barcelona juga telah mencapai sesuatu yang tak mungkin direbut Madrid.

Aksi sapu bersih Barcelona dimulai dengan mengalahkan Athletic Bilbao 4-1 di babak final Copa del Rey, 13 Mei 2009. Sempat unggul lebih dulu melalui Gaizka Toquero di menit kedelapan, Bilbao malah digelontor empat gol sampai lemas tak berdaya oleh Yaya Toure (31), Lionel Messi (54), Bojan Krkic (57), dan Xavi Hernandez (64).

Usai mengangkat Copa del Rey, Barcelona mengangkat trofi Liga Champions, di Stadion Olimpico Roma, 27 Mei 2009. Gelar terbasebagai klub nomor satu Eropa diraih setelah mengandaskan Manchester United 2-0. Sepasang gol Barcelona dicetak oleh Samuel Eto'o (10) dan Lionel Messi (70).

Barcelona menggenapi kesempurnaannya dengan meraih gelar juara Divisi Primera, usai bermain imbang 1-1 dengan Deportivo La Coruna, di jornada terakhir, 30 Mei 2009. La Coruna sempat unggul 1-0 melalui Bodipo di menit ke-31. Namun, Samuel Eto'o menghindarkan Barcelona dari kekalahan melalui golnya di menit ke-89.

Transfer Ricardo Kaka dan Cristiano Ronaldo
Dengan tetap memahami pentingnya transfer Samuel Eto'o dan Zlatan Ibrahimovic, transfer Kaka dan Ronaldo harus diakui sebagai yang paling menghebohkan bursa transfer dan bahkan dunia.

Transfer kedua pemain terbaik dunia ini menggemparkan dunia. Dari segi ekonomi, sejumlah kalangan berpendapat, nilai transfer Kaka dari AC Milan yang mencapai lebih dari Rp 900 miliar dan Ronaldo dari MU yang mencapai sekitar Rp 1,3 triliun merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, mengingat ekonomi dunia masih berada dalam konsisi krisis.

Dalam bingkai olahraga, sejumlah pengamat menilai, transfer tersebut mengubah peta kekuatan sepak bola dunia. Tanpa Kaka, AC Milan dan Serie-A akan kehilangan kekuatan dan daya tarik. Hengkangnya Ronaldo membuat Manchester United dan Premier League juga akan mengalami penurunan daya saing dan daya jual. Sementara itu, Madrid dan Divisi Primera pun akan menjadi pusat perhatian sepak bola dunia.

Barcelona dan Sextuple Winner
Sementara Madrid repot berkonsolidasi dengan pemain-pemain topnya, Barcelona melenggang ke arah semakin sempurna dengan memenangi Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol, dan Piala Dunia Antarklub.

Ingar bingar pesta Barcelona tahun 2009 dibuka kembali dengan memenangi Piala Super Spanyol, usai mengandaskan Athletic Bilbao 3-0 (agregat 5-1) pada leg kedua, di Stadion Camp Nou, Minggu (23/8). kemenangan Barcelona ditentukan oleh gol Lionel Messi (49), (66-penalti), Bojan (71).

Enam hari kemudian, Barcelona mengukuhkan diri sebagai jawara Eropa usai menang 1-0 atas Shakhtar Donetsk, di Stadion Louis II. Gol tunggal Barcelona dicetak oleh Pedro Rodriguez di menit ke-115.

Barcelona memastikan bahwa tahun 2009 betul-betul merupakan milik Catalonia usai mengandaskan Estduiantes La Plata 2-1 di babak final Piala Dunia Antarklub, di Stadion Sheikh Zayed, Sabtu (19/12/2009). Barcelona sempat tertinggal menyusul gol Mauro Boselli di menit ke-37. Namun, Pedro memberi peluang Barcelona untuk bangkit dengan mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-88. Barcelona mengakhiri perlawanan Estudiantes melalui gol Messi di menit ke-110.

Lionel Messi
Messi membuat bendera "Blaugrana" semakin berkibar setelah ia menerima dua anugerah bergengsi, Ballon d'Or dan Pemain Terbaik FIFA 2009. Ini adalah akhir penantian Messi, yang dua musim sebelumnya hanya masuk nominasi. Ia berharap, kesuksesan yang didapatnya bersama Barcelona memotivasinya untuk membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Handsball Thierry Henry
Handsball Henry terjadi di leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia, di Stade de France, Rabu (18/11/2009). Usai mengendalikan bola dengan tangan, Henry mengirim umpan silang yang berujung terciptanya gol William Gallas. Gol tersebut membuat Perancis bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Mengingat di leg pertama Perancis unggul 1-0, mereka pun berhak lolos ke putaran final dengan agregat 2-1.

Irlandia, yang merasa disingkirkan secara tidak adil, menuntut FIFA untuk menggelar tanding ulang. Namun, demi peraturan yang mereka buat sendiri, FIFA menolak usulan tersebut.

Kontroversi tak berhenti di situ. Sejumlah kalangan menilai, gol Henry terjadi akibat ketidakmampuan wasit memantau semua pergerakan pemain di lapangan. Mereka pun mengusulkan FIFA untuk menggunakan teknologi, kamera, untuk menghindari terulangnya kesalahan seperti itu.

FIFA mengaku memikirkan rencana perbaikan kinerja wasit supaya laga berjalan lebih adil. Namun, mereka masih ogah menyerah kepada teknologi. Mereka masih ingin menjadikan sepak bola sebagai aktivitas yang manusiawi dan alami. Sebagai langkah awal, FIFA akan mempertimbangkan penggunaan wasit dan official tambahan di Piala Dunia 2010.

Demikian kilas balik sepak bola 2009 ini. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas perhatian, kritik, saran, dan dukungan, pembaca kanal bola Kompas.com. Tim kanal bola Kompas.com Selamat Tahun Baru 2010. Sukses untuk Anda semua dan Indonesia. Kami akan berusaha untuk melayani dengan lebih baik. Sampai jumpa di 2010. (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau