Gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur, Segeralah...

Kompas.com - 04/01/2010, 10:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dukungan politik terhadap penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid terus didengungkan. Termasuk oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Anggota Fraksi PKS Mahfudz Siddiq mengatakan partainya terus mendorong pemberian gelar tersebut kepada Gus Dur meski dalam beberapa aspek, pemikiran-pemikirannya juga dinilai kontroversial. "Bagi PKS tidak ada masalah, terlepas pro-kontra sosok Gus Dur, dia tokoh pimpinan nasional dan pemikirannya banyak positif. Aspek itu yang memudahkan pengukuhan beliau sebagai pahlawan nasional," ujarnya sebelum pembukaan masa sidang paripurna di Gedung Nusantara DPR RI, Senin (4/1/2010).

Menurut Mahfudz, tak ada alasan bagi Pemerintah untuk menunda-nunda karena masyarakat juga mendukung, bahkan oleh segenap masyarakat dan pemerintah daerah Jawa Timur.

Hal senada juga dilontarkan oleh Anggota Fraksi Hanura Akbar Faisal. Pemerintah diminta sesegera mungkin menganugerahkan gelar tersebut kepada Gus Dur. Tak perlu pertimbangan yang rumit, ungkapnya, karena kontribusi Gus Dur bagi Indonesia sangatlah besar. "Harus segera diberikan. Meski Gus Dur hanya 2.5 tahun menjabat sebagai Presiden tapi kontribusinya sangat besar bagi Indonesia," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau