Puting Beliung Sapu Jawa-Bali

Kompas.com - 07/01/2010, 06:19 WIB
 

DENPASAR, KOMPAS.com - Terjangan hujan keras, disusul angin puting beliung yang meluas dan serentak, terjadi pada Selasa dan Rabu (5-6/1/2010), meliputi kawasan Provinsi Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Gangguan cuaca juga merusak jadwal pelayaran di Nusa Tenggara Timur.

Kerusakan yang ditimbulkan angin puting beliung pada pekan ini juga relatif kian besar dibandingkan dengan waktu sebelumnya dan diduga berkaitan dengan perubahan iklim dan fenomena alam El Nino. Di Desa Munduk Kunci, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, sedikitnya 12 rumah porak-poranda. Di Kabupaten Tuban, Lamongan, Jombang, dan Bojonegoro, semuanya di Jawa Timur, sedikitnya 40 rumah dan gudang roboh dan rusak berat, serta lebih dari 100 rumah rusak ringan akibat diterjang angin puting beliung.

Di Jawa Tengah, amukan puting beliung menumbangkan sekitar 6.000 batang pohon jati usia 8-90 tahun di 130 petak hutan produksi dan alam Kesatuan Pemangku Hutan Cepu, Perusahaan Umum Perhutani Unit I Jateng. Pohon-pohon pelindung di jalan-jalan pusat Kota Malang, Jatim, juga bertumbangan pada Rabu sore.

Penjelasan BMKG

Angin puting beliung yang akhir-akhir ini terjadi masih sulit diprediksi dan hanya bersifat lokal. Namun, tanda-tanda sebelum terjadinya bisa dikenali pada siang hingga sore hari, terjadi terik matahari mengakibatkan perubahan cepat awan putih yang bergumpal-gumpal menjadi awan gelap kumulonimbus hingga mendatangkan hujan lebat disertai petir. Di situlah puting beliung berpeluang terjadi.

”Sekarang ini kondisinya panas, hujan, panas, hujan, seperti masih pada musim peralihan atau pancaroba yang memang sering menimbulkan puting beliung,” kata Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Fadli Syamsudin, Rabu di Jakarta.

Fadli mengatakan, pergerakan semu matahari sekarang berada di selatan khatulistiwa hingga menyengat wilayah-wilayah seperti di Pulau Jawa dan lainnya. Dibarengi pula perbedaan tekanan udara di Asia yang tinggi (dingin) dan Australia yang rendah (panas) menyebabkan bertiupnya angin kencang dan menimbulkan penguapan air menjadi awan-awan kumulonimbus.

Kepala Subbidang Siklon Tropis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fachri Radjab mengatakan, suhu muka laut di wilayah Indonesia masih hangat sehingga mudah menyuplai uap air untuk membentuk awan-awan kumulonimbus secara cepat. Di wilayah Australia mulai terjadi depresi tropis, tetapi pada Rabu kemarin meluruh kembali, tidak sempat meningkat statusnya menjadi siklon tropis.

Dari Denpasar, Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Endro Tjahjono menambahkan, fenomena alam El Nino menyebabkan mundurnya musim hujan di Indonesia bagian tengah dan timur. Meski kelembaban udara sebagai syarat awal terbentuknya awan kumulonimbus berkurang, hal itu tidak berarti menghilangkan sepenuhnya kemungkinan munculnya puting beliung. ”Buktinya angin itu tetap muncul di Buleleng dan kemungkinan bisa di daerah lain di Bali sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia lainnya,” kata Endro.

BMKG Wilayah III Denpasar menyerukan masyarakat di Pulau Bali dan daerah lain agar waspada sekaligus mengenali gejala terjadinya puting beliung agar jatuhnya korban dapat dihindari.

”Gejalanya, antara lain, hujan lebat dalam waktu yang tidak terlalu lama, antara 30 menit dan satu jam, dalam rentang waktu pukul 13.00 hingga pukul 18.00 meskipun terkadang angin itu muncul pada malam hari. Puting beliung adalah angin kencang sesaat dengan arah spiral dari dasar awan menuju permukaan tanah, berkecepatan di atas 60 kilometer per jam dengan durasi tiga hingga lima menit,” kata Endro.

Terjangan puting beliung

Peristiwa di Buleleng merupakan peristiwa ketiga dalam sebulan terakhir. Kepala Dusun Munduk Kunci, Bahzah, mengatakan, angin puting beliung terjadi di tengah hujan deras, Selasa (5/1) sore, mulai sekitar pukul 15.00. Dari 12 rumah warga yang tersapu, empat di antaranya porak-poranda setelah bagian atap diterbangkan angin. Tidak ada korban jiwa ataupun luka dalam peristiwa itu, tetapi para penghuni rumah itu sempat diungsikan ke rumah tetangga yang aman. ”Beberapa pohon juga roboh akibat peristiwa itu, tetapi tidak menimpa bangunan,” kata Bahzah.

Sebelumnya, puting beliung menghantam Dusun Melaka dan Dusun Panti, juga di Sukasada, 10 Desember 2009. Empat rumah semipermanen rusak parah akibat kejadian itu. Sepekan kemudian, 16 Desember, puting beliung kembali meluluhlantakkan sedikitnya 16 rumah di Singaraja, Buleleng. Empat warga luka ringan akibat peristiwa itu.

Ke-40 rumah dan bangunan yang rusak dan ambruk di Tuban dan Lamongan antara lain terdapat di Dusun Krajan, Desa Trawangan, Kecamatan Kenduruhan, (3 rusak berat, 4 ambruk), di Kecamatan Soko (24 rumah rusak, 4 kandang ternak roboh, 1 gudang tembakau roboh).

Di Desa Kedingin, Kecamatan Sugio, Lamongan, 1 rumah roboh, dan 1 rumah lain di Jombang roboh. Di Kecamatan Gondang, Bojonegoro, 78 rumah rusak ringan, sedangkan di Kecamatan Sekar, Bojonegoro, 38 rumah rusak ringan dan 1 rusak berat.

Hampir sebagian pohon itu tercerabut dari akar. Adapun di kawasan lain sepanjang jalur itu, mulai dari perbatasan Kecamatan Jiken-Cepu, pohon-pohon jati tumbang secara sporadis.

Pohon-pohon jati yang terjungkat akarnya itu berada di 130 petak di kawasan hutan Kecamatan Sambong, Jiken, dan Jepon. (HEN/ACI/DIA/CHE/BEN/KOR/GRE/HAN/NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau