Buntut Penembakan, Timnas Togo Mundur

Kompas.com - 10/01/2010, 03:43 WIB

Cabinda, Sabtu - Tim nasional Togo, Sabtu (9/1), mundur dari Piala Afrika 2010 di Angola, menyusul serangan mematikan terhadap bus yang mengangkut rombongan pemain—di antaranya bintang Manchester City, Emmanuel Adebayor—sehari sebelumnya. Tiga orang tewas, dua di antaranya anggota tim Togo, dalam insiden penembakan di kawasan kaya minyak di Angola, Cabinda, yang diklaim dilakukan gerilyawan separatis Front Pembebasan Enklave Cabinda atau FLEC.

Klub Manchester City memastikan, Adebayor telah meninggalkan Angola. Konfederasi Sepak Bola Afrika, CAF, mengecam penembakan itu dan menyatakan turnamen tetap berlanjut meski ada insiden itu. Adebayor, kapten Togo, mengatakan, banyak pemain ingin segera pulang setelah mengalami hal yang mengerikan itu.

”Saya kira banyak pemain ingin pergi, mereka tak ingin berada di turnamen ini lagi karena mereka telah melihat kematian mereka. Sebagian besar pemain ingin kembali ke keluarga mereka,” tutur Adebayor yang tidak terluka dalam insiden itu.

Menurut kiper Togo, Kossi Agassa, yang tidak terluka, dua anggota skuad yang bukan pemain tewas dalam penembakan itu. ”Kami baru saja diberi tahu bahwa asisten pelatih dan petugas media tewas,” kata Agassa dalam wawancara dengan radio Perancis, France Info.

Para penyerang yang bersenapan mesin selama sekitar 30 menit menembaki bus pengangkut timnas Togo saat menyeberang dari Republik Kongo—tempat pemusatan latihan tim—memasuki Cabinda. Kawasan ini menghasilkan setengah dari produksi minyak harian Angola, yang menjadi rival Nigeria sebagai penghasil minyak terbesar di Afrika. Para pemain Togo berlindung di bawah kursi penumpang saat bus mereka dihujani tembakan.

FLEC, yang selama beberapa dekade telah bertempur untuk memperjuangkan kemerdekaan kawasan itu dari Angola, mengklaim telah melakukan serangan tersebut. FLEC menyatakan tidak menargetkan tim Togo, tetapi para tentara Angola yang mengawal rombongan.

”Ini adalah permainan sepak bola, salah satu turnamen terbesar di Afrika dan banyak orang akan bahagia dalam posisi kami. Namun, saya pikir semua orang tidak ingin memberikan hidup mereka untuk hal itu. Jika saya hidup, saya bisa bermain sepak bola besok dan satu tahun lagi, mungkin Piala Afrika berikutnya. Namun, saya tidak siap mati sekarang,” papar Adebayor.

Sejumlah pemain Togo terluka dalam insiden itu, di antaranya bek Serge Akakpo, yang bermain di klub Romania, Vaslui. Ia tertembak dua kali dan Adebayor mengatakan tak yakin Akakpo akan selamat meski klub Vaslui menyatakan kondisi pemainnya membaik setelah sukses menjalani operasi. Satu pemain lain yang terluka adalah penjaga gawang Kodjovi Obilale, yang bermain untuk klub Perancis, GSI Pontivy.

Togo dijadwalkan menghadapi Ghana pada pertandingan perdana di Cabinda, Senin. Meski keamanannya mengkhawatirkan, kawasan ini dipilih menjadi tuan rumah untuk laga penyisihan Grup B yang beranggotakan Togo, Ghana, Pantai Gading, dan Burkina Faso. Tiga tim lain menyatakan tetap akan tampil di turnamen yang seharusnya diikuti oleh 16 tim itu. Belum ada rencana untuk memindahkan lokasi laga dari Cabinda.

Tim-tim dari grup lain sangat khawatir soal keamanan sepanjang kejuaraan meski mereka akan bertahan. Paul Le Guen, pelatih Kamerun, salah satu tim favorit juara, mengatakan, ”Tidak sepadan kehilangan hidup hanya karena sepak bola.”

Bayangi Piala Dunia

Mantan Pelatih Togo Otto Pfister mengatakan, serangan itu akan membayangi penyelenggaraan Piala Dunia yang berlangsung Juni mendatang di Afrika Selatan. ”Ini pukulan nyata bagi Afrika. Ini pasti akan dihubung-hubungkan secara langsung dengan Piala Dunia,” katanya kepada kantor berita SID. ”Ini akan memberi dorongan kepada pengkritik.”

Adebayor, yang bergabung ke Manchester City dari Arsenal dengan harga 25 juta poundsterling, sepakat serangan itu memukul Afrika. ”Kami selalu mengulang-ulang bahwa Afrika, kami, harus mengubah wajah kami jika ingin dihormati dan, sayangnya, hal itu tidak terjadi,” ujarnya.

Penyelenggara Piala Afrika mengadakan pertemuan dengan CAF soal keamanan pasca-insiden. Perkembangannya dipantau terus oleh Afrika Selatan, yang menghabiskan dana sekitar 13 miliar rand (1,7 miliar dollar AS) untuk menggelar Piala Dunia 2010.

Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma tetap akan menghadiri pembukaan Piala Afrika, Minggu (10/1), seperti yang direncanakan. Rich Mkhondo, juru bicara komite lokal penyelenggara Piala Dunia, mengatakan, serangan itu tidak ada hubungannya dengan Piala Dunia. ”Kami tetap percaya bahwa semua orang yang datang ke Afrika Selatan akan aman di negara kami,” katanya.

Sementara itu klub-klub Eropa menginginkan pemainnya segera kembali menyusul insiden penembakan itu. Udinese telah mengontak Ghana agar memulangkan pemainnya, Kwadwo Asamoah.

Klub Liga Primer Hull City juga ingin pemainnya segera pulang. Dua pemain Hull itu termasuk 31 pemain asal Liga Inggris yang harus tampil memperkuat negaranya di Angola. Selain Adebayor, ada Michael Essien, John Obi Mikel, Salomon Kalou, dan Didier Drogba asal Chelsea. (ap/afp/reuters/ray)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau