MEDAN, KOMPAS.com - Pedagang Sumatera Utara dalam kondisi cemas. Produk dagangan China yang telah membanjir dikhawatirkan menurunkan omzet penjualan mereka. Mereka menilai barang dalam negeri kesulitan bersaing dengan produk China yang lebih murah.
"Di Pajak (pasar) Petisah mulai banyak sepatu dan tas China. Kemasan produk mereka lebih menarik dengan asesoris banyak. Namun kualitasnya kalah dengan produk dalam negeri," tutur Ketua Persatuan Pedagang Pasar Petisah Harmon Habib, Minggu (10/1/2010) di Medan.
Harmon mengatakan bagi pembeli yang mengerti produk bagus, mereka lebih memilih produk lokal. Namun bagi pembeli yang uangnya pas-pasan, lebih memilih produk China. "Pada barang yang sama, produk China lebih murah. Daya beli pembeli sangat tergantung dengan perekonomian mereka. Saya khawatir ini tidak bertahan lama," tutur Harmon.
Dia mencontohkan sepatu China di Pasar Petisah rata-rata Rp 75.000 sampai Rp 100.000 sepasang. Untuk produk yang sama, sepatu lokal Rp 100.000 sampai Rp 175.000 sepasang. Lantaran murah, produk China ini berbahan plastik. Sementara produk lokal berbahan kulit.
Adapun sepatu China di pasar itu dijual dengan harga Rp 100.000 sampai Rp 200.000 sepasang. Sementara produk lokal dijual pedagang senilai Rp 150.000 sampai Rp 200.000 sepasang.
"Saya ikut arus saja. Barang apa yang paling banyak diminati, itu yang akan saya jual. Sementara ini produk lokal. Saya khawatir jika daya beli masyarakat melemah, mereka akan membeli produk China," katanya.
Selain menurunnya omzet, Harmon juga mengkhawatirkan meredupnya industri kecil penghasil barang-barang seperti tas dan sepatu. Untuk menekan harga penjualan, pelaku usaha menekan biaya produksi. "Padahal sektor usaha ini, banyak menyerap tenaga kerja. Mudah-mudahan tidak ada pengurangan tenaga kerja," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang