Jakarta, Kompas
Sekretaris Perusahaan PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) Albert Sebastian dalam keterangannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/1) di Jakarta, mengatakan, pada April 2009 tambak-tambak udang milik perseroan terserang virus sehingga produksi merosot dan pendapatan turun.
Hingga triwulan III-2009, pendapatan perusahaan produsen dan pengolah udang terbesar di Indonesia ini hanya Rp 5,18 triliun atau turun 13,7 persen dibandingkan dengan pendapatan triwulan III-2008 yang mencapai Rp 6 triliun.
Untuk mengatasi serangan virus, menurut Albert, perseroan telah melakukan berbagai tindakan, seperti menggunakan beberapa jenis bahan pembersih untuk sanitasi tambak budidaya serta water treatment untuk meningkatkan proses sterilisasi air.
Selain itu, CPRO juga meningkatkan aktivitas di pusat penelitian dan pengembangan perseroan di Florida dan Hawaii, AS, untuk pengembangan bibit udang yang resisten terhadap virus jenis baru.
Pada 28 Juni 2007, anak perusahaan CPRO, Blue Ocean Resources Pte Ltd, menerbitkan obligasi 325 juta dollar AS. Obligasi yang dijamin CPRO itu menawarkan bunga tetap 11 persen per tahun. Bunga akan dibayar dua kali per tahun, yaitu setiap tanggal 28 Juni dan 28 Desember.
Pada 28 Desember 2009, CPRO gagal membayar bunga obligasi 17,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 165 miliar.
Gagal bayar itu mendorong lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menurunkan peringkat utang jangka panjang CPRO dalam bentuk mata uang rupiah dari CC ke C.
Fitch juga menurunkan peringkat obligasi senilai 325 juta dollar AS itu, dari CC menjadi C, serta menyatakan bahwa obligasi tersebut tidak aman.
Gagal bayar bunga obligasi anak perusahaan CPRO ini mendorong BEI untuk menghentikan sementara (suspensi) saham CPRO terhitung sejak Jumat (8/1). Sampai Senin, saham CPRO masih disuspensi. Sebelum disuspensi, saham CPRO diperdagangkan Rp 60 per saham.
Sebelumnya, Direktur Utama CPRO Erwin Sutanto mengatakan, selain karena virus udang, penurunan kinerja keuangan perseroan tahun 2009 juga dipengaruhi krisis finansial global dan adanya tudingan praktik pengalihan pengapalan (transshipment).
Krisis finansial menyebabkan fluktuasi harga dan permintaan udang dari negara pengimpor utama seperti AS stagnan. Adapun tudingan pengalihan pengapalan telah menyebabkan akses produk perseroan ke AS turun.
Untuk memperbaiki kinerja perseroan, kata Erwin, sejak awal 2009 pihaknya telah menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam semua aspek operasional perseroan.
Tudingan transshipment telah diselesaikan awal kuartal II-2009 dengan mengundang Bea Cukai AS guna melakukan tes menyeluruh untuk memastikan keaslian produk CP Prima.