Jusuf Kalla Santai di Podium Presiden

Kompas.com - 14/01/2010, 03:31 WIB

Semasa menjabat sebagai Wakil Presiden periode 2004-2009, Muhammad Jusuf Kalla tidak pernah bersedia memberikan keterangan di atas podium pada ruangan untuk pers di Kantor Presiden.

Kalla saat itu dikenal sebagai Wapres yang akrab dan menyenangkan untuk dimintai keterangan oleh wartawan di mana pun ia berada, kecuali di atas podium itu.

Akan tetapi, Rabu (13/1), Kalla justru tampak santai meladeni pertanyaan wartawan sambil berdiri di atas podium di Kantor Presiden.

Selain digunakan oleh Presiden dan para menteri, podium itu memang dipersilakan untuk digunakan oleh pejabat yang menjadi tamu Presiden. Dan, siang itu, Kalla dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia Pusat adalah tamu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Itulah kali pertama Kalla menginjakkan kaki di lingkungan Istana Presiden sejak menghadiri rapat kabinet paripurna terakhir sebelum pemerintahan baru dibentuk, 20 Oktober 2009.

Pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kalla, keduanya bersaing pada Pemilihan Presiden 2009, hanya berlangsung sekitar 30 menit.

”Beliau sahabat saya, sama-sama di pemerintahan delapan tahun. Dulu, saya masuk bebas saja langsung, sekarang cuma perlu minta ketok pintu dulu. Itu saja bedanya,” ujar Kalla.

Wartawan yang menyesaki ruang pers di Kantor Presiden tak dapat menahan diri untuk menanyakan bagaimana suasana pertemuan pertama Yudhoyono dan Kalla.

”Saya tentu senang sekali, walaupun ini bukan pertemuan pertama, tiga hari lalu kami ketemu di acara pengantin. Tetapi, secara resmi ini pertama kali menghadap. Dulu berbincang bersama, sekarang menghadap,” ujarnya.

Bahas soal bank

Tidak ada isu atau masalah yang terlalu sensitif untuk ditanyakan kepada Kalla. Karena Kamis ini ia akan diundang oleh Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century, wartawan pun tak luput mencecarnya dengan pertanyaan soal apakah kasus Century juga disinggung dalam pembicaraan Kalla dan Yudhoyono.

Dengan wajah serius, Kalla menjawab, ”Kami sebetulnya membahas masalah bank secara mendalam, tetapi yang kami bahas bank darah, bukan Bank Century.”

 

Kalla menjelaskan, ia dan Presiden Yudhoyono tidak memiliki hambatan untuk berkomunikasi setiap saat jika ada persoalan negara untuk dibicarakan.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PMI Pusat, Kalla menegaskan, ia dan Yudhoyono memiliki komitmen dan perhatian yang sama dalam urusan kemanusiaan.

Ketika menyambut Kalla, Presiden juga menyampaikan selamat karena PMI kini dipimpin oleh Kalla yang mempunyai reputasi mampu bergerak sigap pada saat krisis.

Kalla yang mengenakan kemeja batik berwarna merah juga tak menghindar ketika wartawan yang sehari-hari bertugas di lingkungan Istana Presiden meminta untuk berfoto bersama. Rencana foto bersama bahkan sudah disiapkan sebelum Kalla tiba di istana.

Antusiasme wartawan di istana untuk berfoto bersama tamu Presiden yang begitu besar sebelumnya hanya terjadi ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berkunjung ke Jakarta, tahun lalu.

Seusai memberikan keterangan pers dan berfoto bersama, wartawan masih juga mengerubuti Kalla yang dengan susah payah bergerak ke mobil sambil menanyakan beragam persoalan kepadanya. (NUR HIDAYATI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau