Jusuf Kalla Tinggalkan Presiden Yudhoyono

Kompas.com - 14/01/2010, 10:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum PMI Jusuf Kalla terpaksa meninggalkan acara peninjauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap kesiapan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) di Halim Perdanakusuma karena harus memenuhi panggilan Panitia Khusus Angket Century.
     
"Ya saya harus ke DPR," katanya singkat ketika dicegat wartawan saat meninggalkan lokasi acara di Landasan Echo Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (14/1/2010).
    
Ketika ditanya mengapa tidak menunggu Presiden Yudhoyono yang masih menerima paparan dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsu Maarif, Jusuf Kalla hanya menjawab, "Saya sudah menunggu lama."
    
Acara peninjauan kesiapan SRC-PB seharusnya dimulai pada pukul 08.45, tetapi pada saat itu Presiden Yudhoyono baru tiba di Halim Perdanakusuma dan langsung menerima paparan. Adapun para undangan, termasuk Jusuf Kalla, menunggu di lokasi peninjauan sejak pukul 08.00.
    
Sementara itu, Jusuf Kalla harus berada di DPR untuk memenuhi panggilan Pansus Angket Century sekitar pukul 09.00. Terkait itu, Jusuf Kalla terpaksa meninggalkan acara sekitar pukul 09.45.
    
Selang 10 menit kepergian Jusuf Kalla, acara peninjauan kesiapan SRC-PB oleh Presiden Yudhoyono dimulai, yang ditandai dengan bunyi sirene. Tentang kesiapannya menghadapi Pansus Angket Century, mantan Wakil Presiden RI itu menjawab siap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau