"Bos" Al Qaeda Yaman Tewas dalam Serangan Udara

Kompas.com - 15/01/2010, 23:37 WIB

SANAA, KOMPAS.com - Sebuah serangan udara terhadap kelompok Al Qaeda di Semenanjung Arab pada hari Jumat menewaskan enam pemimpin kelompok ini, termasuk seorang bos militer.

"Enam pemimpin Al Qaeda, termasuk komandan jaringan militer , Qassem Al Rimi tewas pada hari Jumat," kata seorang pejabat Yaman.

Beerapa pimpinan Al Qaeda lainnya adalah, Ammar Al Waili, Ayedh Al Shabwani dan Saleh Al Tai. Mereka ikut tewas dalam serangan di Al Ajashir, sebuah wilayah gurun di bagian timur provinsi Saada.

Dua "bos" Al Qaeda lainnya belum teridentifikasi namanya, sementara dua lainnya melarikan diri dari tempat kejadian.

"Rimi adalah arsitek utama dari sebagian besar jaringan Al Qaeda yang beroperasi di Yaman," kata pejabat itu. Ia menambahkan, bahwa Rimi pernah menyelinap melalui jaring dua kali sebelumnya, pada 2008 dan pada akhir 2009.

Sementara itu, dalam khotbah Jumat, ulama Syekh Abdulmajeed al Zendani mengatakan ada kewajiban yang ditugaskan Tuhan untuk membela Yaman melalui jihad, atau perang suci, jika diduduki oleh kekuatan asing.

Khotbah itu merespons sebagian komentar Carl Levin, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS  Rabu lalu yang mendesak Washington untuk mempertimbangkan penargetan Al Qaeda di Yaman dengan lebah jantan, serangan udara atau operasi rahasia, tetapi tidak menyerang negara.

"Saat mereka masuk ke wilayah kita dan menduduki kita, ini memaksakan kita melakukan jihad," kata Zendani, yang oleh pemerintah AS dilabeli sebagai seorang teroris.

"Ini adalah kewajiban agama ditentukan oleh Allah, " katanya saat berkhotbah.

"Ini perintah Allah tidak dapat dibatalkan oleh siapapun ... bukan seorang raja, bukan presiden, bukan juga ulama (cendekiawan Muslim)," tambah Zendani.

Dewan Ulama Yaman, termasuk Zendani, telah membuat seruan untuk berjihad pada hari Kamis jika pasukan asing bergabung dalam perang melawan AQAP. "Jika ada pihak bersikeras melakukan agresi, atau menyerang negara, maka menurut Islam, jihad menjadi wajib," kata sebuah pernyataan yang ditandatangani oleh 150 ulama.

Para ulama memang menolak segala intervensi asing dalam urusan Yaman, apakah politik atau militer.  Mereka juga menolak adanya kerja sama militer antara Yaman dan pihak asing jika itu melanggar syariah Islam.

Pada hari Jumat, Zendani mendesak negara-negara Arab dan muslim untuk mendukung Yaman. "Negara-negara Islam tidak akan berdiri dengan tangan bersedekap melihat Perang Salib ini, "tambahnya.

Presiden AS Barack Obama telah mengatakan, ia tidak pernah berniat mengirimkan pasukan ke Yaman, atau ke Somalia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau