jakarta, kompas -
Perhitungan polisi, jika tiap pembeli mengonsumsi 1 gram sabu, sabu sebanyak 12 kg akan mengancam 12.000 orang.
Kepala Bagian Represif Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta Ajun Komisaris Besar Sigit Gumantyo, yang dihubungi terpisah, kemarin, mengutip data dari Badan Narkotika Nasional, mengatakan, jumlah pencandu sabu di DKI Jakarta saat ini sekitar tujuh juta orang. Itu artinya dari 100 warga Jakarta, enam di antaranya mengonsumsi narkoba.
”Jakarta masih yang tertinggi di Indonesia, diikuti Yogyakarta sekitar 2,6 juta, dan Maluku sekitar sejuta orang,” tuturnya.
Selain menangkap Lex dan Spy (30) di rumah itu, satu jam kemudian polisi menjemput Sst (35), petugas keamanan perumahan tersebut, yang merangkap sebagai kurir usaha terlarang itu.
Direktur Reserse Narkoba Komisaris Besar Anjan Pramuka Putra menjelaskan, Lex adalah pemilik usaha sekaligus peracik sabu yang dijual dengan harga Rp 900 juta per kg, sedangkan Spy menjadi koki. ”Kami masih mengejar HN dan AR yang mengajari Lex membuat sabu,” tutur Anjan.
Di rumah tiga lantai yang tampak mencolok dibandingkan dengan rumah lain di kompleks itu, polisi menemukan 23 jenis barang bukti, antara lain 96.000 butir ephedrin, 2 ons sabu berbentuk kristal, 5 liter sabu cair, mangkok peracik, dan tabung kimia.
Lex sudah menyiapkan usahanya itu sejak sembilan bulan lalu, tetapi mengaku baru berproduksi selama tiga bulan terakhir. Sabu produksinya dikirim ke para pelanggan di Bali, Palembang, dan kota-kota di Jawa.
Sehari sebelumnya, aparat Kepolisian Sektor Metro Tanjung Duren, Jakarta Barat, menangkap Yeni Helen (46) dan putranya, Dede (15), karena menjadi bandar dan kurir sabu di jaringan narkotik yang dikendalikan keluarga mereka.
”Saya baru dua bulan jualan gara-gara dibujuk Gandhi. Ia teman suami saya, Rusli, yang sama-sama dipenjara di LP Salemba,” kata Yeni yang ditangkap di rumahnya di Tanah Tinggi, Kecamatan Johar, Jakarta Pusat, Kamis malam.
Polisi menyita 200 gram sabu impor kualitas satu dan lima paket kecil sabu di rumah Yeni yang sehari-hari berjualan ayam potong di Pasar Senen. Dede, putra bungsu Yeni yang duduk di kelas III SMP, menjadi kurir bisnis itu.
Suami Yeni, Rusli, sedang menjalani hukuman selama empat tahun di LP Salemba sebagai terpidana kasus sabu.
Kepala Polsek Tanjung Duren Komisaris Jhoni Iskandar yang ditemui mengatakan, Yeni dijebak polisi yang menyamar sebagai pembeli sabu.
”Ia mendapat pasokan dari seseorang di sekitar ITC Roxy, Jakarta Pusat. Total barang bukti senilai Rp 320 juta di pasaran. Sabu kualitas satu harganya mencapai Rp 1,6 juta per gram. Yeni berada di ring dua mata rantai perdagangan narkotik sesudah bandar besar yang menjadi pemasoknya,” kata Jhoni.
Menurut Jhoni, pihaknya masih mengejar jaringan bisnis keluarga Yeni.