Hanya ada satu bandar udara yang bisa dimanfaatkan, dan bantuan datang lebih cepat daripada orang-orang bisa membongkarnya. Pelabuhan tidak bisa dimanfaatkan karena dermaga rusak.
Jalan-jalan rusak atau tertutup reruntuhan sehingga menyulitkan penyaluran bantuan. Orang-orang yang selamat berkerumun di jalan-jalan dan mulai memblokir jalan dengan tumpukan mayat di satu sisi Kota Port-au-Prince guna menuntut bantuan.
”Mereka mulai marah dan tidak sabar,” kata David Wimhurst, juru bicara misi penjaga perdamaian PBB dari Brasil.
Hampir saja terjadi perkelahian saat warga berebut bantuan yang dijatuhkan dari sebuah helikopter. Beberapa orang juga nyaris berkelahi saat berebut air yang dibagikan dari sebuah truk.
Di bagian lain Port-au-Prince, sekitar 50 warga mengejar dua pekerja kemanusiaan yang mengenakan kaus Food for the Poor yang tengah mencoba memasuki gedung markas mereka yang rusak.
”Kami mendengar gedoran di pintu dan orang-orang mencoba masuk. 'Ada apa? Kalian mau memberi kami makanan?' tanya mereka. Kalian tidak akan tahu kalau orang sudah melewati batas,” ujar Liony Batista, salah seorang pekerja Food for the Poor.
Di tengah keputusasaan menanti bantuan, mulai terjadi penjarahan dan ancaman kekerasan. Muncul laporan adanya letusan tembakan yang membuat pekerja kemanusiaan khawatir.
”Persoalan terbesar kami adalah keamanan. Kemarin mereka mencoba membajak beberapa truk kami. Hari ini kami hampir tidak bisa bekerja di beberapa tempat karena hal itu,” kata Delfin Antonio Rodriguez, komandan tim penyelamat dari Republik Dominika.
”Terjadi penjarahan dan ada orang-orang bersenjata di luar sana karena orang-orang sangat putus asa,” tutur dia.
Program Pangan Dunia PBB (WFP) melaporkan bahwa gudang mereka di Port-au-Prince dijarah. Kim Buldoc dari WFP memperingatkan risiko terjadinya kekacauan sosial jika para pekerja tidak bergerak cepat menyalurkan bantuan.
Dari Eropa, Asia, dan Amerika, pemerintah dan kelompok-kelompok kemanusiaan mengirim pesawat penuh biskuit dan bahan makanan lain, berton-ton air bersih, tenda, selimut, tablet pemurni air, peralatan berat, dan helikopter ke Haiti. Negara-negara menjanjikan bantuan dana hingga 400 juta dollar AS, termasuk 100 juta dollar AS dari Amerika Serikat.
Ratusan tim pencari dan penyelamat, tenaga medis, dan anjing pelacak tiba di lokasi gempa dan berjuang menyelamatkan korban. Warga pun belum lelah menggali di antara reruntuhan bangunan.
Bau tak sedap mulai memenuhi udara kota karena mayat-mayat korban gempa yang dibiarkan begitu saja di jalan-jalan. Presiden Haiti Rene Preval mengatakan, sudah 7.000 orang dimakamkan di kuburan massal.
Palang Merah Internasional memperkirakan korban tewas sekitar 45.000 orang hingga 50.000 orang. Ribuan orang yang terluka menghabiskan malam ketiga dalam kesakitan, terbaring di tepi jalan, dan menanti dengan putus asa.
”Kami telah berada di luar, menanti selama tiga hari tiga malam, tetapi tidak ada yang dilakukan untuk kami. Bahkan, tak satu pun kata penghiburan dari Presiden. Apa yang harus kami lakukan?” kata Pierre Jackson, seorang warga Port-au-Prince.
Amerika Serikat dan Presiden Barack Obama bergerak mengambil alih pimpinan upaya penyelamatan di Haiti. Dua kapal amfibi dengan 2.000 marinir dan sebuah kapal induk dikerahkan untuk keperluan penyelamatan. Bahkan, Kuba memberi izin agar wilayah udaranya digunakan oleh AS untuk menerbangkan bantuan dan mengevakuasi korban gempa.
Obama dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, bersama Brasil, Kanada, dan negara-negara di kawasan akan mengadakan konferensi internasional untuk membangun kembali Haiti, bekas koloni Perancis, kemungkinan pada Maret mendatang. (ap/afp/reuters/bbc/fro)