Runik Sri Astuti
Lautan manusia tumpah di punggung Gunung Kelud yang membentang di sisi wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (27/12). Mereka berdatangan sejak sang fajar bangkit dari peraduannya untuk menyaksikan upacara adat ritual sesaji yang menjadi tradisi tahunan setiap bulan Sura bagi penduduk desa di lereng gunung.
Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini panitia tidak menampilkan lakon Rakaryan Lembu Suro, penggawa Kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting Dewi Kilisuci, putri Raja Kadiri. Karena usahanya gagal, Lembu Suro dipenuhi oleh angkara murka.
Sifat angkara murka itulah yang pada akhirnya membunuh Lembu Suro dengan cara dimasukkan ke dalam kawah Gunung Kelud oleh pasukan Kerajaan Majapahit yang memburunya.
Dalam ritual sesaji kali ini, cerita legenda tentang Lembu Suro dan Dewi Kilisuci hanya dibacakan oleh pemangku adat. Setelah pembacaan cerita legenda, selanjutnya arak-arakan isi sesaji yang berupa hasil bumi yang dikemas dalam lima gunungan.
Kelima gunungan itu dipersembahkan oleh lima desa di lereng Kelud, yakni Desa Sugihwaras, Desa Ngancar, Desa Babadan, Desa Sempu, dan Desa Pandantoyo. Selain rombongan dari desa, upacara ritual sesaji juga diikuti oleh ratusan umat dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Kediri.
Puncak acara ritual sesaji Gunung Kelud ditandai dengan peletakan gunungan di kaki kubah lava diiringi doa-doa dari sejumlah pemuka agama, pemuka adat, dan tokoh masyarakat kepada Yang Mahakuasa.
Ketua Panitia Ritual Sesaji Gunung Kelud 2009 yang juga Kepala Desa Sugihwaras, Bejo Utami, mengatakan, ritual sesaji merupakan tradisi tahunan yang ada sejak zaman nenek moyang dan diwariskan kepada generasi penerus untuk dilestarikan.
Makna dari ritual sesaji bagi masyarakat di kaki Gunung Kelud tidak lain sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang diberikan kepada rakyat melalui Gunung Kelud.
Ritual ini juga bisa dimaknai sebagai condro sengkolo atau penolak bala. Dengan memberikan sesaji, penduduk berharap mampu meredam amarah Gunung Kelud sehingga tercipta harmoni alam yang selaras.
Gunung Api Kelud merupakan salah satu sumber bencana terbesar yang bisa mengancam jiwa penduduk di sekitarnya sewaktu-waktu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung yang memantau secara rutin menyatakan Gunung Kelud sebagai gunung api aktif.
Gunung Kelud terakhir meletus pada akhir tahun 2007. Letusan terakhir ini bersifat efusif (mengalirkan material), berbeda dari letusan sebelumnya yang bersifat eksplosif (menyemburkan material).
Akibat letusan terakhir, danau kawah Gunung Kelud yang berwarna hijau berubah menjadi kubah lava yang mengalirkan material berwarna hitam dari dalam perut gunung. Ketinggian kubah saat ini mencapai 250 meter dengan lebar sekitar 400 meter.
Sepanjang sejarahnya, gunung ini tercatat mengalami 29 kali letusan, baik eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2007. Erupsi eksplosifnya mampu menghancurkan ratusan desa di sekitarnya, termasuk ribuan hektar lahan pertanian dan menewaskan ribuan warga. Sebagai gambaran, lima letusan terakhirnya saja memakan korban 5.400 jiwa.
Berdasarkan pengamatan letusan selama tiga abad berturut-turut, waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah 65-76 tahun, tetapi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun 1901, waktu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31 tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.
Kepala Pos Pemantau Gunung Api Kelud di bawah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Khoirul Huda, mengatakan, gunung yang kaki-kakinya menancap di wilayah Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang ini sering menjadi obyek studi dan referensi pengembangan ilmu gunung api (vulkanologi) bagi ilmuwan lokal dan mancanegara. Di sisi lain, tidak bisa diingkari, Kelud memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa banyak yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Sebut saja pasir Kelud yang tidak pernah habis ditambang selama bertahun-tahun, atau semburan abu gunung yang memberikan kesuburan bagi tanah-tanah di sekitarnya sehingga pertanian dan perkebunan berkembang pesat.
Gunung Kelud menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Timur yang tersohor dengan pemandangan alamnya yang unik, menarik, dan menantang.
Keunikan gunung yang terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Kediri ini salah satunya terdapat pada puncaknya yang berbentuk strato dengan danau kawah di tengahnya walaupun danau kawah itu saat ini telah berubah bentuk menjadi kubah lava.
Gunung Kelud merupakan satu-satunya gunung api di Indonesia yang bisa dijangkau sampai ke kawahnya. Wisata petualangan dimulai dengan melewati terowongan sepanjang sekitar 200 meter dengan dinding batu dilapisi semen.
Gunung yang secara geografis berada di posisi 7056’ Lintang Selatan dan 112018,5’ Bujur Timur dengan ketinggian 1.650 meter di atas dataran Kediri atau 1.731 meter di atas permukaan laut ini juga memiliki sungai air panas yang selalu dibalut dengan kabut putih pekat.
Kelebihan lain, pembangunan wisata ini ditunjang dengan fasilitas jalan menuju ke kawasan yang beraspal hotmix sampai ke ujung terowongan menuju kawah. Hal ini memudahkan pengunjung yang ingin menjangkaunya dengan berbagai jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, bahkan sepeda pancal.
Menurut Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mujianto, terdapat tidak kurang dari 1.000 pengunjung pada hari libur. Pada saat diadakan kegiatan tertentu seperti Larung Sesaji, jumlah pengunjung bisa menembus 10.000 orang dalam satu hari.
Oleh karena itulah momentum ritual sesaji yang dulu hanya upacara adat biasa sengaja dikemas cantik sebagai pesona baru Gunung Kelud yang diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan lokal ataupun mancanegara.