KOLOMBO, KOMPAS.com — Seorang pendukung kelompok oposisi Sri Lanka, Senin (18/1/2010), tewas dalam sebuah kerusuhan menjelang pemilihan presiden pekan depan sekalipun ada peningkatan keamanan.
Polisi menyebutkan, pria itu tewas dalam sebuah kerusuhan dengan aktivis kelompok partai pemerintah di barat laut Sri Lanka. Dengan meninggalnya pria ini berarti sudah tiga korban tewas menjelang pelaksanaan pemilihan umum presiden pada 26 Januari mendatang.
Para pendukung kelompok oposisi utama, mantan pimpinan militer Sarath Fonseka, diserang di kota Wariyapola ketika mereka sedang memasang poster. "Seorang pria tewas dan sejumlah yang lain luka-luka," kata juru bicara polisi sekretariat pemilihan umum.
Polisi mengatakan, mereka mencatat hampir 600 insiden atau aksi kekerasan yang terkait dengan pemilihan umum. Presiden Mahinda Rajapakse, yang juga mencalonkan diri, telah memerintahkan peningkatan keamanan untuk mengatasi kerusuhan, kata juru bicaranya, Chandrapala Liyanage.
"Presiden sangat prihatin dengan aksi kekerasan yang terjadi dan memerintahkan polisi untuk memastikan ada peningkatan keamanan," kata Liyanage kepada AFP, Minggu. "Dia juga menyerukan kepada seluruh pihak untuk memastikan tidak ada aksi kekerasan."
Aktivis oposisi Kusuma Kuruoouarachchi (60) adalah korban tewas pertama dalam kampanye pemilihan umum setelah dia ditembak mati di sebuah kota di selatan, Hungama, pekan lalu. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk mengusir ribuan pekerja partai di kota bagian timur, Polonnaruwa, setelah massa merusak kendaraan dan gedung-gedung hari Rabu.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kolombo mengatakan, Washington prihatin dengan peningkatan aksi kekerasan di Sri Lanka itu.
Pada Mei tahun lalu, pemerintah Sri Lanka telah menumpas gerakan separatis Macan Tamil dan mengakhiri perang etnis yang telah berlangsung selama puluhan tahun di pulau itu. "Korban dari serangan brutal ini tidak hanya mereka yang tewas, tetapi juga demokrasi," kata Kedubes AS dalam pernyataannya.
"Aksi kekerasan serupa menghancurkan hak-hak demokrasi dan tradisi di Sri Lanka."
Amerika Serikat baru-baru ini dituduh para anggota parlemen partai pemerintah sebagai sumber dana bagi kelompok oposisi utama untuk menggulingkan Rajapakse.
Tuduhan itu disangkal pihak Kedubes AS. Pemimpin oposisi Ranil Wickremesinghe sendiri telah menuduh partai Rajapakse menggunakan kekerasan dan praktik intimidasi untuk memperoleh suara. Rajapakse memperoleh tantangan berat dari Fonseka, calon yang mundur dari dinas militer dan bergabung dalam politik pada November.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang