Kekerasan Meningkat di Sri Lanka Jelang Pilpres

Kompas.com - 18/01/2010, 15:33 WIB

KOLOMBO, KOMPAS.com — Seorang pendukung kelompok oposisi Sri Lanka, Senin (18/1/2010), tewas dalam sebuah kerusuhan menjelang pemilihan presiden pekan depan sekalipun ada peningkatan keamanan.

Polisi menyebutkan, pria itu tewas dalam sebuah kerusuhan dengan aktivis kelompok partai pemerintah di barat laut Sri Lanka. Dengan meninggalnya pria ini berarti sudah tiga korban tewas menjelang pelaksanaan pemilihan umum presiden pada 26 Januari mendatang.

Para pendukung kelompok oposisi utama, mantan pimpinan militer Sarath Fonseka, diserang di kota Wariyapola ketika mereka sedang memasang poster. "Seorang pria tewas dan sejumlah yang lain luka-luka," kata juru bicara polisi sekretariat pemilihan umum.

Polisi mengatakan, mereka mencatat hampir 600 insiden atau aksi kekerasan yang terkait dengan pemilihan umum. Presiden Mahinda Rajapakse, yang juga mencalonkan diri, telah memerintahkan peningkatan keamanan untuk mengatasi kerusuhan, kata juru bicaranya, Chandrapala Liyanage.

"Presiden sangat prihatin dengan aksi kekerasan yang terjadi dan memerintahkan polisi untuk memastikan ada peningkatan keamanan," kata Liyanage kepada AFP, Minggu. "Dia juga menyerukan kepada seluruh pihak untuk memastikan tidak ada aksi kekerasan."

Aktivis oposisi Kusuma Kuruoouarachchi (60) adalah korban tewas pertama dalam kampanye pemilihan umum setelah dia ditembak mati di sebuah kota di selatan, Hungama, pekan lalu. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk mengusir ribuan pekerja partai di kota bagian timur, Polonnaruwa, setelah massa merusak kendaraan dan gedung-gedung hari Rabu.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kolombo mengatakan, Washington prihatin dengan peningkatan aksi kekerasan di Sri Lanka itu.

Pada Mei tahun lalu, pemerintah Sri Lanka telah menumpas gerakan separatis Macan Tamil dan mengakhiri perang etnis yang telah berlangsung selama puluhan tahun di pulau itu. "Korban dari serangan brutal ini tidak hanya mereka yang tewas, tetapi juga demokrasi," kata Kedubes AS dalam pernyataannya.

"Aksi kekerasan serupa menghancurkan hak-hak demokrasi dan tradisi di Sri Lanka."

Amerika Serikat baru-baru ini dituduh para anggota parlemen partai pemerintah sebagai sumber dana bagi kelompok oposisi utama untuk menggulingkan Rajapakse.

Tuduhan itu disangkal pihak Kedubes AS. Pemimpin oposisi Ranil Wickremesinghe sendiri telah menuduh partai Rajapakse menggunakan kekerasan dan praktik intimidasi untuk memperoleh suara. Rajapakse memperoleh tantangan berat dari Fonseka, calon yang mundur dari dinas militer dan bergabung dalam politik pada November.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau