Soal Bantuan Pangan, AS Ambil Risiko

Kompas.com - 19/01/2010, 16:09 WIB

KOMPAS.com — Haiti kini tak menentu kondisinya. Warga korban gempa bumi terlanda kelaparan. Aksi penjarahan meruyak di mana-mana.

Sementara itu, warga juga memadati Bandara Port-au-Prince untuk menanti bantuan pangan. Warga berpunya juga memilih untuk meninggalkan tanah airnya.

Padatnya bandara, kata pihak marinir AS, memang bikin pusing. Soalnya, tim militer tak leluasa meneruskan bantuan. Padahal, dalam waktu dekat ini AS sudah menyiapkan 14.000 unit makanan siap saji berikut 15.000 liter air.

Jadilah, pilihan untuk menerjunkan bantuan tersebut bakal terealisasi. Nantinya, bantuan tadi diterjunkan di timur laut Port-au-Prince. Selanjutnya, militer AS pun mempertimbangkan penyaluran bantuan dengan penerjunan di seluruh wilayah Haiti.

Pengiriman bantuan di Port-au-Prince juga makin sulit karena kemarahan massa yang tidak sabar menunggu bantuan. Akibatnya, bantuan harus dikawal oleh iringan kendaraan militer.

Tadinya, pekan lalu, Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan, penerjunan bahan bantuan tidak akan dilakukan karena diperkirakan justru akan mengakibatkan kekacauan.

Gates memperingatkan, metode semacam itu bisa jadi pemicu kerusuhan karena tidak ada struktur yang layak disiapkan di lokasi penerjunan bantuan untuk dibagikan kepada massa.

Meluas

Lebih dari 2.000 marinir dikirim untuk bergabung dengan 1.000 tentara AS yang sudah berada di Haiti. Mereka dilengkapi dengan alat berat, belasan pesawat helikopter, serta fasilitas medis. Kedatangan ribuan marinir AS ini bersamaan dengan makin meluasnya aksi kekerasan dan penjarahan di seluruh Haiti.

Meski demikian, Kepala Lembaga Kemanusiaan PBB John Holmes menilai situasi pada umumnya masih tenang, meskipun terjadi peningkatan aksi kekerasan.

Sementara pemimpin militer AS di Haiti, Letnan Jenderal Ken Keen, mengatakan, di Port-au-Prince kekerasan justru sedikit mereda dibanding sebelum terjadinya gempa.

Jenderal Keen sebelumnya menyatakan, bencana ini diperkirakan bisa menelan korban hingga 200.000 jiwa.

Para pekerja kemanusiaan juga mulai melebarkan upaya penyaluran bantuan ke wilayah di luar ibu kota, termasuk Leogane, Gressier, Petit-Goave, dan kota pantai Jacmel.

Menurut mantan Presiden AS Bill Clinton yang juga utusan khusus PBB untuk bencana Haiti, persoalannya bukan apakah bantuannya cukup, tetapi apakah penyalurannya sudah cukup cepat.

Menurut berita BBC, Selasa (19/1/2010), penjarahan berlangsung di berbagai sudut kota. Di situ, massa bersenjatakan golok, tongkat, sabit, dan senjata api.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau