KOMPAS.com — Haiti kini tak menentu kondisinya. Warga korban gempa bumi terlanda kelaparan. Aksi penjarahan meruyak di mana-mana.
Sementara itu, warga juga memadati Bandara Port-au-Prince untuk menanti bantuan pangan. Warga berpunya juga memilih untuk meninggalkan tanah airnya.
Padatnya bandara, kata pihak marinir AS, memang bikin pusing. Soalnya, tim militer tak leluasa meneruskan bantuan. Padahal, dalam waktu dekat ini AS sudah menyiapkan 14.000 unit makanan siap saji berikut 15.000 liter air.
Jadilah, pilihan untuk menerjunkan bantuan tersebut bakal terealisasi. Nantinya, bantuan tadi diterjunkan di timur laut Port-au-Prince. Selanjutnya, militer AS pun mempertimbangkan penyaluran bantuan dengan penerjunan di seluruh wilayah Haiti.
Pengiriman bantuan di Port-au-Prince juga makin sulit karena kemarahan massa yang tidak sabar menunggu bantuan. Akibatnya, bantuan harus dikawal oleh iringan kendaraan militer.
Tadinya, pekan lalu, Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan, penerjunan bahan bantuan tidak akan dilakukan karena diperkirakan justru akan mengakibatkan kekacauan.
Gates memperingatkan, metode semacam itu bisa jadi pemicu kerusuhan karena tidak ada struktur yang layak disiapkan di lokasi penerjunan bantuan untuk dibagikan kepada massa.
Meluas
Lebih dari 2.000 marinir dikirim untuk bergabung dengan 1.000 tentara AS yang sudah berada di Haiti. Mereka dilengkapi dengan alat berat, belasan pesawat helikopter, serta fasilitas medis. Kedatangan ribuan marinir AS ini bersamaan dengan makin meluasnya aksi kekerasan dan penjarahan di seluruh Haiti.
Meski demikian, Kepala Lembaga Kemanusiaan PBB John Holmes menilai situasi pada umumnya masih tenang, meskipun terjadi peningkatan aksi kekerasan.
Sementara pemimpin militer AS di Haiti, Letnan Jenderal Ken Keen, mengatakan, di Port-au-Prince kekerasan justru sedikit mereda dibanding sebelum terjadinya gempa.
Jenderal Keen sebelumnya menyatakan, bencana ini diperkirakan bisa menelan korban hingga 200.000 jiwa.
Para pekerja kemanusiaan juga mulai melebarkan upaya penyaluran bantuan ke wilayah di luar ibu kota, termasuk Leogane, Gressier, Petit-Goave, dan kota pantai Jacmel.
Menurut mantan Presiden AS Bill Clinton yang juga utusan khusus PBB untuk bencana Haiti, persoalannya bukan apakah bantuannya cukup, tetapi apakah penyalurannya sudah cukup cepat.
Menurut berita BBC, Selasa (19/1/2010), penjarahan berlangsung di berbagai sudut kota. Di situ, massa bersenjatakan golok, tongkat, sabit, dan senjata api.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang