Perekonomian 2010

Optimisme di Tengah Kegalauan FTA

Kompas.com - 21/01/2010, 04:15 WIB

 Stefanus Osa Triyatna

Awal tahun 2010, perhatian industriwan tersita oleh kegalauan menghadapi Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China. Ini peluang atau ancaman? Mungkinkah perekonomian dunia yang turut membawa angin perubahan bagi Indonesia membuka rasa optimisme bagi industriwan?

Perdagangan bebas menyisakan pesimisme dan optimisme. Bagi industri yang sudah didukung berbagai sarana dan prasarana serta kebijakan pemerintah, tentu perluasan dan kemudahan pasar menjadi peluang besar.

Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri Indonesia memandang, perekonomian dunia mulai bergerak menuju pemulihan lebih cepat dari perkiraan.

Sejak triwulan kedua 2009 sejumlah negara utama di berbagai belahan dunia sudah menunjukkan perbaikan sangat berarti.

Tanda-tanda menggembirakan berlanjut pada triwulan ketiga. Eropa secara keseluruhan sudah membukukan pertumbuhan positif, dengan Jerman dan Perancis sebagai penghela utamanya. Perekonomian Jepang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, yakni 4,8 persen (year on year).

Semua negara yang tergabung di dalam BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) mengalami pembalikan arah dengan kuat. Sementara itu, Emerging Markets Asia menjadi bintang pemulihan.

Majalah Economist menjuluki fenomena ini sebagai pembalikan arah yang menakjubkan (astonishing rebound). Bahkan, pada triwulan ketiga, pertumbuhan ekonomi (quarter to quarter, annual rate) Singapura dan Korea mencapai dua digit, masing-masing 14,2 persen dan 13,6 persen.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, ”Produksi industri dan ekspor merupakan dua indikator yang memberikan pertanda kuat. Hampir semua negara pengekspor utama dunia beringsut dari titik terendah.”

Menurut Faisal, hanya perekonomian Amerika Serikat yang tampaknya masih digelayuti oleh ketidakpastian tinggi. Kendati demikian, ada beberapa pertanda perekonomian AS menuju perbaikan.

Indeks keyakinan konsumen dalam dua bulan terakhir (November-Desember 2009) naik setelah pada bulan sebelumnya turun cukup tajam. Tampaknya AS membutuhkan waktu yang lebih lama menuju normal mengingat negara ini adalah pusat gempa krisis finansial global.

Perekonomian Indonesia

LP3E mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2009 sudah kembali naik menjadi 4,2 persen dari angka terendah 4,0 persen pada triwulan sebelumnya.

Laju inflasi tahun 2009 mencatat angka terendah sebesar 2,7 persen. Sementara itu, nilai tukar mulai stabil pada kisaran Rp 9.000-Rp 9.500 per dollar AS.

Ekspor year on year sudah beberapa bulan terakhir meningkat kembali, juga pertumbuhan produksi industri besar dan menengah. Penjualan sepeda motor, mobil, dan semen menggeliat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus 2.600 pada minggu kedua Januari 2010. Tercatat pada hari penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2009, investor asing membeli lebih dari satu miliar saham (Rp 2,5 triliun) dan melakukan transaksi jual 700-an juta lembar saham (Rp 1,7 triliun) sehingga pada posisi pembelian bersih.

Porsi asing tampaknya juga mendominasi. Modal asing meminati Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tercatat pada akhir 2009 investor asing membeli SBI Rp 44,1 triliun dan pada akhir minggu pertama Januari 2010 menjadi Rp 49,5 triliun.

Investor asing membeli SUN hingga akhir tahun lalu mencapai Rp 106,3 triliun dan pada minggu pertama Januari 2010 menjadi Rp 109 triliun.

Data di perbankan hingga November tahun lalu menunjukkan bahwa sejumlah Rp 1.398 triliun kredit tersalurkan dengan penekanan pada kredit sektor perdagangan, restoran, dan hotel mencapai Rp 290 triliun, kredit manufaktur Rp 243 triliun, jasa dunia usaha Rp 146 triliun, dan sisanya untuk pertanian, pertambangan, peralatan, konstruksi, pengangkutan, dan telekomunikasi.

Karena itu, International Institute for Management Development dalam publikasi tahunan terbarunya, World Competitiveness Yearbook (2009), menempatkan daya saing Indonesia di posisi ke-42 tahun 2009 dari urutan ke-51 tahun 2008.

Kadin Indonesia sejak awal optimistis. Dalam ”Roadmap Pembangunan Ekonomi Indonesia 2009-2014” yang diserahkan Kadin Indonesia kepada Presiden RI pada Oktober tahun lalu, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2010 adalah 5,4-5,9 persen.

Artinya, secara ”alamiah” kita bisa tumbuh sekitar 5,4 persen. Dengan mempertimbangkan ada perbaikan dan langkah-langkah khusus yang bakal ditempuh oleh pemerintahan baru, terbuka peluang untuk tumbuh lebih tinggi, yakni 5,9 persen.

Setelah mencermati perkembangan selanjutnya hingga dewasa ini, LP3E Kadin Indonesia merevisi batas atas pertumbuhan ekonomi 2010 menjadi 6,5 persen. Optimisme ini dilandasi oleh pertumbuhan kredit perbankan yang lebih tinggi, sekitar 20 persen.

Juga, peningkatan arus penanaman modal asing langsung, perbaikan kualitas belanja modal pemerintah, dan percepatan proyek-proyek infrastruktur.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel mengatakan, ”Satu-satunya sektor yang sangat memprihatinkan belakangan ini ialah industri manufaktur. Sektor ini terus mengalami perlambatan hingga mencapai titik terendah pada triwulan ketiga, dengan pertumbuhan hanya 1,3 persen.”

Tantangan bagi sektor industri manufaktur terus menghadang hingga tahun depan. Deraan krisis listrik kian menjadi-jadi, ditambah lagi FTA ASEAN-China.

Tanpa FTA saja, ujar Rahmat, Indonesia sudah keteteran menghadapi penetrasi produk- produk manufaktur dari China. Kini, FTA yang kerap disebut ancaman hendaknya dijadikan peluang membuka pasar. Jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar bagi negara lain. (OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau