Stefanus Osa Triyatna
Perdagangan bebas menyisakan pesimisme dan optimisme. Bagi industri yang sudah didukung berbagai sarana dan prasarana serta kebijakan pemerintah, tentu perluasan dan kemudahan pasar menjadi peluang besar.
Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri Indonesia memandang, perekonomian dunia mulai bergerak menuju pemulihan lebih cepat dari perkiraan.
Sejak triwulan kedua 2009 sejumlah negara utama di berbagai belahan dunia sudah menunjukkan perbaikan sangat berarti.
Tanda-tanda menggembirakan berlanjut pada triwulan ketiga. Eropa secara keseluruhan sudah membukukan pertumbuhan positif, dengan Jerman dan Perancis sebagai penghela utamanya. Perekonomian Jepang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, yakni 4,8 persen (year on year).
Semua negara yang tergabung di dalam BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) mengalami pembalikan arah dengan kuat. Sementara itu, Emerging Markets Asia menjadi bintang
Majalah Economist menjuluki fenomena ini sebagai pembalikan arah yang menakjubkan (astonishing rebound). Bahkan, pada triwulan ketiga, pertumbuhan ekonomi (quarter to quarter, annual rate) Singapura dan Korea mencapai dua digit, masing-masing 14,2 persen dan 13,6 persen.
Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, ”Produksi industri dan ekspor merupakan dua indikator yang memberikan pertanda kuat. Hampir semua negara pengekspor utama dunia beringsut dari titik terendah.”
Menurut Faisal, hanya perekonomian Amerika Serikat yang tampaknya masih digelayuti oleh ketidakpastian tinggi. Kendati demikian, ada beberapa pertanda perekonomian AS menuju perbaikan.
Indeks keyakinan konsumen dalam dua bulan terakhir (November-Desember 2009) naik setelah pada bulan sebelumnya turun cukup tajam. Tampaknya AS membutuhkan waktu yang lebih lama menuju normal mengingat negara ini adalah pusat gempa krisis finansial global.
LP3E mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2009 sudah kembali naik menjadi 4,2 persen dari angka terendah 4,0 persen pada triwulan sebelumnya.
Laju inflasi tahun 2009 mencatat angka terendah sebesar 2,7 persen. Sementara itu, nilai tukar mulai stabil pada kisaran
Ekspor year on year sudah beberapa bulan terakhir meningkat kembali, juga pertumbuhan produksi industri besar dan menengah. Penjualan sepeda motor, mobil, dan semen menggeliat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus 2.600 pada minggu kedua Januari 2010. Tercatat pada hari penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2009, investor asing membeli lebih dari satu miliar saham (Rp 2,5 triliun) dan melakukan transaksi jual 700-an juta lembar saham
Porsi asing tampaknya juga mendominasi. Modal asing meminati Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tercatat pada akhir 2009 investor asing membeli SBI Rp 44,1 triliun dan pada akhir minggu pertama Januari 2010 menjadi Rp 49,5 triliun.
Investor asing membeli SUN hingga akhir tahun lalu mencapai Rp 106,3 triliun dan pada minggu pertama Januari 2010 menjadi Rp 109 triliun.
Data di perbankan hingga November tahun lalu menunjukkan bahwa sejumlah
Karena itu, International Institute for Management Development dalam publikasi tahunan terbarunya, World Competitiveness Yearbook (2009), menempatkan daya saing Indonesia di posisi ke-42 tahun 2009 dari urutan ke-51 tahun 2008.
Kadin Indonesia sejak awal optimistis. Dalam ”Roadmap Pembangunan Ekonomi Indonesia 2009-2014” yang diserahkan Kadin Indonesia kepada Presiden RI pada Oktober tahun lalu, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2010 adalah 5,4-5,9 persen.
Artinya, secara ”alamiah” kita bisa tumbuh sekitar 5,4 persen. Dengan mempertimbangkan ada perbaikan dan langkah-langkah khusus yang bakal ditempuh oleh pemerintahan baru, terbuka peluang untuk tumbuh lebih tinggi, yakni 5,9 persen.
Setelah mencermati perkembangan selanjutnya hingga dewasa ini, LP3E Kadin Indonesia merevisi batas atas pertumbuhan ekonomi 2010 menjadi 6,5 persen. Optimisme ini dilandasi oleh pertumbuhan kredit perbankan yang lebih tinggi, sekitar 20 persen.
Juga, peningkatan arus penanaman modal asing langsung, perbaikan kualitas belanja modal pemerintah, dan percepatan proyek-proyek infrastruktur.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel mengatakan, ”Satu-satunya sektor yang sangat memprihatinkan belakangan ini ialah industri manufaktur. Sektor ini terus mengalami perlambatan hingga mencapai titik terendah pada triwulan ketiga, dengan pertumbuhan hanya 1,3 persen.”
Tantangan bagi sektor industri manufaktur terus menghadang hingga tahun depan. Deraan krisis listrik kian menjadi-jadi, ditambah lagi FTA
Tanpa FTA saja, ujar Rahmat, Indonesia sudah keteteran menghadapi penetrasi produk- produk manufaktur dari China. Kini, FTA yang kerap disebut ancaman hendaknya dijadikan peluang membuka pasar. Jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar bagi negara lain.