Piyu dan Pencarian Talenta

Kompas.com - 22/01/2010, 05:48 WIB

Gitaris band Padi, Satriyo Yudi Wahono (36) atau Piyu, tak sekadar menjadi musisi dan penulis lagu. Ia mulai menekuni menjadi produser, pencari bakat lokal hingga internasional, sutradara, bahkan pengusaha.

Sabtu (16/1) di Kampus Universitas Surabaya, dalam workshop musik yang digelar Kompas MuDA bersama Ubaya, Piyu berbagi cerita soal pengalamannya di jalur musik. Acara ini merupakan rangkaian ”MuDA Creativity 3rd Anniversary Bangga Indonesia!” garapan Kompas MuDA dengan KFC.

Cerita Piyu mengalir, tak ada beban, mengingat Piyu yang dibesarkan di Surabaya juga punya pertanyaan dan kendala yang sama 10 tahun lalu. Dari Surabaya, 10 tahun lalu, ia punya obsesi yang sama dengan para peserta workshop musik hari itu, yakni bagaimana berkiprah di dunia musik dan bisa diakui publik.

Selain membeberkan bagaimana industri musik bekerja, Piyu juga mempresentasikan kepeduliannya terhadap pencarian bakat anak-anak Jawa Timur. Ya, satu tahun lalu, Piyu telah membuat acara pencarian bakat tingkat Surabaya, yang melahirkan band baru, Night To Remember.

Kini, Night To Remember sudah menyelesaikan album perdana yang akan dirilis Februari nanti, di bawah label yang diprakarsai Piyu, E-motion Entertainment. Tahun 2010 Piyu meluaskan target pencarian bakat tingkat Jawa Timur.

Dia sudah menyiapkan segala sistem perekrutan kader-kader baru di bidang musik. Semua infrastruktur yang dibutuhkan seorang calon artis sudah dia bangun.

Ajang pencarian bakat ini menjadi fokus Piyu tahun ini. Selain mencari, menjuri, dan memilih pemenangnya, dia juga berkomitmen mengantarkan band itu sampai ke dapur rekaman. Tak ada kendala untuk kepastian rekaman ini karena Piyu pula yang mengelola label E-motion.

E-motion telah mengantarkan pendatang baru menjadi artis, seperti Drive, Armada, juga Tompi. Piyu pula yang membantu mengubah citra Titi Kamal dari pesinetron, dan pernah menyanyikan lagu dangdut saat bermain film Mendadak Dangdut, menjadi penyanyi yang punya citra lain.

Startup 2010

Tahun 2010 Piyu yang didukung sponsor memulai rekrutmen untuk Startup 2010, program pencarian bakat band se-Jawa Timur.

”Sekarang sudah mulai pendaftaran, kompetisinya dimulai Maret,” kata Piyu seusai workshop.

Ia memilih Jawa Timur karena merasa besar dan lahir di Surabaya. ”Otomatis saya pengin membawa Surabaya eksis.”

Sejak 10 tahun terakhir Piyu galau karena tak ada band dari Surabaya atau Jawa Timur yang jadi papan atas tingkat nasional.

”Dulu ada Dewa, Boomerang, kemudian Padi. Tapi setelah Padi, bisa dibilang tak ada penerusnya. Saya merasa gelisah, sedih sendiri,” katanya.

”Akhirnya saya buat acara pencarian bakat ini. Sistemnya jemput bola karena band-band Surabaya mungkin enggak punya modal ke Jakarta, mungkin enggak senekat saya dulu ke Jakarta pertama kali. Atau mungkin mereka enggak punya koneksi,” tambahnya.

Seleksi akan mengambil 10 band, dan dari 10 band itu akan diambil satu band terbaik yang akan dibuatkan rekamannya.

Label rekaman

Selain mencipta lagu, menjadi musisi, mencari bakat, dan menjadi produser, Piyu juga merintis sebagai pengusaha, tepatnya dengan membuat perusahaan rekaman bernama E-motion Entertainment.

”Drive merupakan band pertama yang saya coba orbitkan. Ternyata Drive ini awal yang bagus, sekarang ada sekitar 15 artis di bawah E-motion,” katanya.

Piyu tinggal di Jakarta. Namun, karena acara pencarian bakat ini, dalam setahun ia harus keliling Jawa Timur untuk proses seleksi band.

”Sekalian napak tilas dengan apa yang saya lakukan dulu, 10 tahun lalu, saat saya mencari karier. Sekarang saya memberi karier untuk orang lain,” katanya.

Ia juga mengembangkan sayap dengan mencoba menjadi sutradara. Untuk sementara dialah sutradara klip video single baru band The Vulluz.

Di tingkat internasional, ia juga merintis karier. Piyu berusaha menembus Paris, Perancis. ”Saya membuka distribusi di Perancis. Besok saya akan ke Paris, meeting dengan produser membahas distribusi album.”

Untuk debut album di Paris ini, Piyu mengangkat Tompi di album bertajuk Paris-Jakarta Express. Di album itu, Piyu bermain gitar. ”Album ini kerja sama dengan produser Perancis. Orang Perancis suka musik-musik dunia yang jarang didengar. Dalam hal ini kami mengangkat musik etnis. Tompi kan dari Aceh, jadi nuansa musik Sumatera juga ditampilkan.”

Setelah Tompi, Piyu berjanji akan mencari artis berbakat lainnya. ”Sederhananya, bagaimana mencari Anggun-Anggun baru,” katanya.

Paris terbuka sekali dengan berbagai jenis musik, tinggal bagaimana kita menggali musik-musik etnis kita. ”Kalau musik pop-rock, di sana banyak. Kalau kita menampilkan musik yang berbeda, pasti akan menarik.”

Nah, buat kalian yang punya talenta, jangan ragu, tunjukkan identitas etnis kamu. Jadi, untuk bisa sukses, tak harus ”menjual” identitas dan idealisme musik kamu dengan membebek arus utama.

(AMIR SODIKIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau