JAKARTA, KOMPAS.com - Polemik seputar apakah kasus ambruknya Bank Century berdampak sistemik atau tidak terus bergulir. Sebagian besar publik ternyata meyakini bahwa kasus Bank Century tidak akan berdampak sistemik.
Setidaknya hal ini terungkap dalam paparan hasil survei Indo Barometer mengenai perkembangan kasus Bank Century. Survei menunjukkan, publik dominan meyakini, sebesar 38,7 persen bahwa kasus Bank Century tidak berdampak sistemik sehingga tidak perlu diselamatkan.
Sementara 24,7 persen berpendapat bahwa kebangkrutan Bank Century berdampak sistemik dan dapat menular pada bank-bank lain sehingga perlu diselamatkan. Sedangkan 36,7 persen di antaranya mengaku tidak tahu.
Dari survei juga diketahui bahwa sebagian besar publik meyakini kebangkrutan pada Bank Century terjadi karena kesalahan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh pengelola bank, yakni sebesar 58,3 persen. Angka ini cukup jauh dengan 9,5 persen publik yang menganggap kasus Century merupakan akibat krisis bank yang terjadi di dunia.
"Jadi keyakinan publik bahwa kebangkrutan Bank Century akibat kesalahan dari pemiliknya itu sangat kuat," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari dalam paparannya, Minggu (24/1/2010), di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta.
Dalam paparan lansiran survei Indo Barometer tersebut turut hadir anggota Pansus Hak Angket Century Maruarar Sirait. Politisi PDI-P ini mengatakan, persepsi publik tak dapat terbantahkan dan semakin memperkuat sejumlah temuan dari Pansus selama ini. "Ini merupakan persepsi publik. Bagaiamanapun ya harus di-deliver," kata dia.
Indo Barometer melakukan survei publik bertajuk "Kasus Century di Mata Publik" ini pada 8-18 Januari 2010. Survei dilakukan di 33 provinsi se Indonesia dengan responden sebanyak 1200 orang.
Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,0 persen. "Survei ini dibiayai dari Indo Barometer sendiri. Dengan subsidi silang dengan kegiatan lainnya," kata Qodari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang