Armani "Sah-sah Saja" Pakai Lambang Garuda

Kompas.com - 26/01/2010, 10:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penggunaan gambar garuda yang mirip lambang negara Indonesia dalam desain terbaru kaus Giorgio Armani tak perlu dipersoalkan. Hal itu dikatakan anggota DPR asal Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, Selasa (26/1/2010) di Gedung DPR, Jakarta.

Bambang memandang, penggunaan garuda dalam salah satu produksi desainer kondang itu justru memberikan kebanggaan. "Bagus dong, artinya lambang Garuda kita sudah diakui internasional. Sama juga kan dengan AS yang lambang negaranya juga dibuat kaus," ujar Bambang.

Ia melihat, desain itu merupakan salah satu strategi dagang Armani. "Armani itu kan kita kenal selalu melakukan inovasi. Mungkin dia mau cari pasar di sini, di Asia atau Eropa juga. Kan bisa jadi sebagai konsumsi negara maju yang gandrung dengan produksi negara Asia," katanya.

Penggunaan lambang negara tersebut, menurut dia, sah-sah saja sepanjang tak ada unsur pelecehan. Dan, tak perlu izin untuk penggunaannya. "Lambang negara ketika sudah diciptakan menjadi milik dunia, tidak perlu izin. Asal jangan dilecehkan, misalnya gambar-gambarnya diganti dengan yang tak pantas," kata Bambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau