Jumlah Berlebih, Bandung "Dikepung" Mal

Kompas.com - 26/01/2010, 10:12 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Perkembangan pusat perbelanjaan dan mal di Kota Bandung mencapai titik jenuh. Daya beli masyarakat lokal masih terbatas sehingga perdagangan cenderung stagnan. Kondisi tersebut diperparah pengelolaan manajemen yang tidak efektif serta minimnya kreativitas dalam melakukan promosi.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia Jawa Barat Hari Raharta, Selasa (26/1/2010) di Bandung, mengatakan, Kota Bandung sudah terlalu padat oleh keberadaan pusat perbelanjaan mulai dari factory outlet (FO), restoran, hingga distro. Dalam kondisi ini, mal yang tidak memiliki keunggulan komparatif dan segmen pasar yang jelas akan semakin tersisih.

"Tingkat penawaran lebih besar dari permintaan. Banyak mal yang tidak dikelola secara serius akhirnya kalah berinovasi dan ditinggalkan pengunjung," ujarnya.

Hingga 2009, di Kota Bandung sedikitnya terdapat 30 mal besar. Pengembangan sebagian mal ke arah timur Kota Bandung juga dinilai belum mampu menarik minat masyarakat karena segmen pasarnya yang kurang tepat.

"Segmen pasar di Bandung timur, baik secara ekonomi maupun budaya, berbeda dengan Bandung barat. Akan lebih baik dikembangkan kompleks pertokoan di daerah itu," ujarnya.

Hari menilai, pasar pusat perbelanjaan, khususnya mal, di Kota Bandung adalah masyarakat lokal. Ini karena pengunjung dari luar kota, seperti Jakarta, lebih tertarik membelanjakan uangnya ke distro dan FO. Untuk itu, dia tidak menyarankan investasi di sektor mal. "Investasi lebih baik diarahkan untuk pengambilalihan beberapa mal yang kondisinya semakin sepi akibat pengelolaan manajemen yang tidak efektif," ungkap Hari.

Sekretaris Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Jabar Chairiah menilai, dari segi pasar, mal di Kota Bandung sebenarnya masih bisa berkembang. Hanya saja, mengacu pada luas areal Kota Bandung, jumlah mal memang sedikit berlebihan.

"Mengelola mal harus selalu dinamis. Harus aktif melakukan kegiatan atau promosi. Jangan mentang-mentang merasa telah memiliki pasar, lalu tidak melakukan aktivitas promosi atau membenahi, setidaknya membenahi penampilan mal. Jika ini yang terjadi, mal itu lambat laun pasti akan ditinggalkan pembelinya karena jenuh dan bosan," ujarnya.

Selain itu, Chairiah juga menilai, pembangunan mal harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat di sekitar. Beberapa contoh kasus mal yang sepi pembeli terjadi karena tidak jeli melakukan survei perilaku pasar dan profil konsumen di sekitar lingkungannya.

"Konsep mal atau pusat belanja juga harus jelas. Harus ada penawaran yang tidak dimiliki tempat belanja yang lain. Jika hal ini bisa diwujudkan, saya optimistis, tidak akan ada pusat belanja atau mal yang ditinggalkan pembeli," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau