Djoko Pekik hanya terkekeh saat beberapa seniman seperti Sindhunata mengolok-olok nasib celengnya ditimpa sapuan kuas 300 anak. Dalam sejarah hidup seniman yang pernah menjual lukisannya miliaran rupiah ini, baru kali ini karyanya diacak-acak. Bukannya marah, Pekik berkelakar, "Ini anak yang punya acara. Hak mereka melakukan apa saja."
Seniman lain yang turut dalam gelar acara melukis bersama anak di ajang Biennale Anak seperti Diah Yulianti, Ayu Arista Murti, dan Nasirun pun terkejut melihat hasil akhir karya melukis bersama itu. "Bahasa ekspresi anak memang berbeda," ungkap Nasirun, Jumat (22/1) sore.
Melukis bersama antara anak dan seniman menjadi penutup seluruh rangkaian Biennale Anak 2010. Setiap hari selama satu pekan, Yara (4,5) selalu bersemangat melongok ke Biennale Anak di Taman Budaya Yogyakarta. Keasyikannya mencapai puncak ketika punya kesempatan menggambar bersama seniman idolanya, Nasirun.
Jika sebelumnya Yara hanya bisa memandang Nasirun melukis, kini dia punya ruang untuk menambah atau justru menimpa lukisan Nasirun dengan kuasnya. Karena hanya dua kanvas yang disediakan panitia, ratusan anak harus antre untuk turut menorehkan warna. Dari awalnya hanya mencoba mewarnai lukisan yang sudah digambar para seniman berupa celeng, boneka, dan lampu taman, anak-anak mulai bergairah berkarya.
Gambar boneka mulai bertanduk dan memiliki wajah beragam. Sementara sang celeng sudah dirias beragam warna sebelum kemudian benar-benar lebur dan menghilang dari kanvas. Meskipun tak pernah belajar tentang ragam teknik lukis, anak-anak usia taman kanak dan sekolah dasar itu mulai menggunakan tangan untuk menyapukan warna. Beberapa bahkan melemparkan cat ke permukaan kanvas tanpa menggunakan kuas.
Tak berbentuk
Hasil karya akhir melukis bersama ini sama sekali tidak berbentuk. Kanvas yang tertutupi oleh beragam sapuan warna ini, menurut Sindhunata, menjadi wahana pembelajaran. Keasyikan anak untuk menyalurkan kreativitas tetap harus terkontrol sehingga tidak cenderung merusak.
Orangtua seperti Anik dan Tono menilai, rangkaian agenda Biennale Anak yang baru pertama kalinya digelar di Indonesia dan bahkan di dunia ini mendongkrak kepercayaan diri anak. Anak-anak selalu antusias berkreasi dan begitu bangga menyaksikan pameran karya mereka.
Yara bahkan turut mempromosikan Biennale Anak dengan mengajak anak-anak tetangga dan rekan sekolahnya untuk menyaksikan karyanya. "Tiap kali ada tamu ke rumah, Yara segera membuka katalog pameran Biennale Anak untuk ditunjukkan. Dia juga selalu memamerkan kaus yang diperoleh sebagai peserta Biennale Anak," tutur Anik, Ibu Yara.
Seniman Nasirun mengaku iri menyaksikan semakin terbukanya ruang bagi anak untuk berkarya. Dari sisi media seni lukis saja, anak-anak setidaknya sudah bisa menggambari tembok rumahnya dengan coretan. "Zaman saya kecil dulu, mau menggambari tembok, ya, tidak bisalah wong temboknya dari anyaman bambu. Mencari kertas juga sulit," kata Nasirun.
Anak Nasirun, Yudistira Nurul Asmi, yang setiap hari dilingkupi atmosfer seni lukis pun merasa semakin terwadahi di gelaran Biennale Anak. Ia merasa diperkaya dengan beragam kreativitas dalam seni lukis seperti melukis dengan menggunakan media boneka atau layang- layang. Terbukanya ruang berkreasi juga bisa dilihat dari karya anak yang sama sekali tidak seragam.
Biennale Anak turut membuka mata seniman sekaliber Djoko Pekik untuk mulai berkontribusi kepada generasi muda. Djoko Pekik yang sebelumnya sama sekali tidak pernah menularkan ilmu menggambar ke anak-anak, termasuk tak pernah mengajari melukis cucunya, terlihat menikmati kebersamaan berkarya bersama anak-anak. "Seniman punya tanggung jawab untuk melestarikan keindahan agar anak punya fondasi seni," kata Djoko Pekik.
Karya tak terduga dari ratusan anak pada ajang Biennale Anak semakin memantapkan langkah Direktur Biennale Anak Yuswantoro Adi untuk menggelarnya rutin dua tahunan seperti Biennale Jogja yang sudah 10 kali digelar dan menyemarakkan kota.
Di Biennale Anak 2010, anak-anak diharapkan benar-benar menemukan dunianya dan kebebasan berkreasi. Semoga Biennale Anak mencetak generasi-generasi yang tidak asing terhadap seni dan percaya diri dan mampu mengendalikan energi merusaknya. (WKM)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang