Awas, Gejolak Politik Pascapenahanan Fonseka

Kompas.com - 09/02/2010, 04:29 WIB

LONDON,KOMPAS.com - Amnesti Internasional menuduh pemerintah Sri Lanka telah meningkatkan sebuah tindakan keras terhadap oposisi politik pascapenangkapan kandidat yang kalah di bulan lalu pemilihan presiden.

Mantan panglima militer Sarath Fonseka, yang dikalahkan Presiden Mahinda Rajapakse dalam pemilu 26 Januari lalu, telah ditahan oleh polisi militer Senin untuk tuduhan "pelanggaran militer".

Beberapa jam sebelum penangkapan, Fonseka kepada wartawan mengatakan, dirinya akan menghadapi penyelidikan internasional tekait tuduhan kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Sri Lanka dalam tahap akhir melawan pemberontak Macan Tamil tahun lalu.

"Penangkapan Fonseka adalah tindakan keras pada oposisi politik," kata Sam Zarifi, Direktur Amnesty International Asia Pasifik.

Zarifi mendesak Rajapakse untuk mengarahkan negara itu ke arah yang lebih baik dalam catatan hak asasi manusia.

"Kami melihat pemerintah kurang toleransi terhadap kritik," kata kelompok hak asasi manusia ini.

"Karena kekalahannya dalam pemilu, beberapa pendukung kunci Fonseka telah ditangkap. Wartawan dan media pendukung oposisi juga terancam kekerasan sekarang," kata Amnesti.

Namun Zarifi menambahkan bahwa Fonseka juga harus menghadapi tuduhan kejahatan perang. Ia harus tunduk pada penyelidikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau