Membatasi Makan Bisa Timbulkan Komplikasi

Kompas.com - 09/02/2010, 13:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Membatasi makanan yang masuk dalam tubuh bisa membuat tubuh kekurangan zat-zat yang dibutuhkan. Padahal, zat-zat tersebut dibutuhkan tubuh untuk bertahan. Dalam beberapa kasus, anoreksia dan bulimia bahkan bisa menyebabkan kematian. Biasanya, penderitanya meninggal karena terjadi komplikasi.

Suhanto Kasmali, dokter dari Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Timur, mengatakan, minimnya makanan yang masuk bisa mengganggu metabolisme tubuh, mulai dari metabolisme karbohidrat, protein, hingga lemak. Komplikasi bisa terjadi karena kurangnya vitamin dan mineral sehingga terjadi gangguan fungsi jantung, tiroid, gagal ginjal, dan kematian.

Gangguan yang pertama umumnya terjadi di bagian pencernaan. Organ pencernaan kehilangan bahan baku untuk diolah. Gangguan yang dapat terjadi antara lain pelambatan pengosongan lambung, kembung, susah buang air besar (sembelit), serta nyeri abdomen.

Dalam jangka panjang, penderita anoreksia dan bulimia bisa mengalami turunnya fungsi organ-organ vital, seperti jantung dan otak. "Penyebabnya, mereka kekurangan haemoglobin atau zat darah merah," kata Suhanto.  Padahal, haemoglobin memiliki tugas yang sangat penting, yaitu mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh.

Kekurangan mineral dan zat elektrolit yang penting bagi tubuh juga bisa membawa efek fatal. Zat elektrolit seperti kalsium dan kalium berperan dalam merangsang detak jantung. Akibatnya, irama jantung bisa tidak teratur dan mengganggu keseimbangan distribusi dalam tubuh. Dalam beberapa kasus, banyak ditemukan penderita anoreksia atau bulimia meninggal mendadak karena irama jantung yang tidak normal. Selain itu, kekurangan zat elektrolit juga bisa menyebabkan gangguan saraf dan mengalami kejang-kejang.

Penderita anoreksia dan bulimia juga lebih mudah terserang infeksi karena kekurangan zat albumin dalam tubuh. Albumin berperan dalam pembekuan darah supaya luka cepat menutup diri dari infeksi.

Gangguan hormonal juga bisa terjadi. Perubahan hormon reproduksi dan tiroid bisa menyebabkan gangguan siklus menstruasi pada wanita, intoleran terhadap dingin, infertilitas atau penurunan daya tahan tubuh, penyusutan tulang (osteoporosis), dan gangguan pertumbuhan.

Penderita bulimia juga bisa mengalami komplikasi rongga mulut dan kerongkongan karena terlalu sering terpapar asam lambung yang keluar saat muntah. Penggunaan obat pencahar juga membuat penderita mengalami diare akut dan tak bisa buang air besar tanpa obat.

Untuk membantu penyembuhan, diperlukan terapi, yaitu psikologi, nutrisi, dan terapi obat. "Dukungan dan penerimaan dari lingkungan menjadi sangat penting untuk mereka," kata Sarlito Sarwono, psikolog.

Selain itu, penderitanya juga harus mencari ahli gizi untuk mendapatkan ukuran yang tepat mengenai diet. Terapi nutrisi bisa dilakukan lewat penjelasan proses makan yang benar, yaitu boleh berhenti makan jika merasa cukup, bukan merasa kenyang.

Penderita juga harus kembali makan makanan sehat dengan gizi seimbang. Konsumsi vitamin, mineral, dan suplemen juga diperlukan untuk mempercepat penyembuhan. Jika penderita mengalami penurunan berat badan 25 persen dari berat badan normal atau organ tubuh mengalami cedera, mereka wajib dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan khusus.

Kembalikan nutrisi dan vitamin
Tujuan utama dalam pengobatan anoreksia ialah pengembalian berat badan. Tapi pemulihan psikologi dan depresi juga diperlukan. Untuk mendapatkan berat badan ideal dan kembalinya fungsi hormon,  penderita harus mengonsumsi   vitamin dan   suplemen mineral, terutama kalsium, kalium, dan  zat besi.

Meski pun tidak ada pantangan makanan bagi penderita anoreksia, pemenuhan nutrisi   dan gizi tetap  harus seimbang satu sama lain. Jangan sampai, manfaat nutrisi malah hilang akibat konsumsi makanan lain yang berlebihan. Misalnya, penyerapan zat besi dapat ditingkatkan dengan bantuan vitamin C terutama dari jeruk.

Sebaliknya, serat, kalsium, seng, dan kafein bisa mengganggu penyerapan zat besi oleh tubuh. Sayuran hijau juga direkomendasikan untuk penderita anoreksia. Bukan hanya baik bagi kesehatan, kandungan klorofil dalam sayuran hijau dipercaya mengandung senyawa yang dibutuhkan saraf sebagai penenang. Alhasil, penderita anoreksia akan berpikir secara kreatif dan positif untuk membantu pemulihan depresi yang biasanya menyertai anoreksia.
(Sanny Cicilia Simbolon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau