JAKARTA, KOMPAS.com — Tak dapat dimungkiri, ramainya pengunjung Pasar Gembrong di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, berbanding lurus dengan kemacetan di ruas Jalan Basuki Rachmat atau terusan Casablanca dari arah Kampung Melayu ke arah Pondok Kopi. Pasalnya, kios-kios penjual mainan langsung berada di bibir jalan dari Jalan DI Panjaitan dari arah Cawang dan kemudian menyatu di Jalan Basuki Rachmat.
Pengunjung yang datang kebanyakan memarkir mobil atau motornya di pinggir jalan. Tentu saja itu membuat lalu lintas tersendat, apalagi di jam-jam pulang kantor pada sore hari karena mobil dan motor yang diparkir jumlahnya mencapai puluhan.
Alex, salah satu pemilik kios mainan dan voucher handphone di kawasan itu, mengaku memang pasar selalu ramai dari pagi hari menjelang sore. Pada pagi hari, biasanya pedagang mainan dari berbagai daerah, baik grosiran kecil maupun eceran, datang membeli mainan untuk dijual kembali. Sementara siang menjelang sore hari, biasanya masyarakat yang memenuhi pasar dengan panjang sekitar 1 kilometer itu. "Ya, tetap ramai sepanjang hari," tuturnya, Rabu (10/2/2010).
Mereka yang datang ke pasar itu pun diakuinya memang membawa kendaraan untuk mengangkut mainan atau aksesori lain yang dibelinya. Kendaraan diparkir di depan kios-kios yang berbatasan langsung dengan Jalan Basuki Rachmat. Tak ayal memang membuat jalanan menjadi macet.
Sementara itu, salah satu tukang parkir di kawasan tersebut, sebut saja Mamad, enggan berkomentar soal parkir yang menimbulkan kemacetan. "Pasti mau wawancara soal kemacetan, ya? Saya sudah males diwawancarai, Mbak. Ya, kalau macet, jangan salahkan kami dong," tuturnya kesal.
Mamad menegaskan, wilayah parkir yang dibawahinya bukanlah parkiran liar. Ada restribusi resmi, ujarnya. Mamad juga menekankan pada seragam parkir berwarna biru yang dikenakannya. Di lengan kanannya tertera lambang pemerintah daerah. Namun, ketika ditanyakan siapa yang memberi izin, Mamad enggan menyebutkan. "Saya pernah diwawancarai sama stasiun televisi, beritanya jadi jelek-jelekin. Parkiran liarlah, apalah. Saya sudah kapok, kalau ada yang nanya saya bilang aja, cari aja berita sendiri. Ini pasti ada izinnya dong. Tanya saja sama yang atas-atasnya saya. Jangan sama saya," ujarnya lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang