Korban Lapen 9 Orang

Kompas.com - 11/02/2010, 03:15 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Jumlah korban meninggal akibat minuman keras oplosan lapen di Yogyakarta bertambah menjadi sembilan orang. Korban terakhir bernama Ardiansyah (30), warga Sagan, Kecamatan Gondokusuman, yang berprofesi sebagai juru parkir.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Kota Besar Yogyakarta Komisaris Saiful Anwar mengatakan, dua rekan Ardiansyah yang juga meminum lapen masih dirawat

di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, Rabu (10/2). Mereka bernama Tri Yulianto (28) dan Fendi Kurniawan (19). ”Keduanya warga Sagan juga,” kata Saiful seraya menambahkan, Ardiansyah meninggal pada Selasa sore.

Dalam kasus ini, Poltabes Yogyakarta akhirnya menetapkan AD (39) sebagai tersangka. AD adalah penjual lapen di Gondomanan.

Sebagaimana diberitakan, selama 6-9 Februari 2010, enam warga Yogyakarta meninggal dunia setelah meminum lapen. Minuman itu dikemas dalam plastik bening sehingga tidak terkesan sebagai minuman keras oplosan. Jual-beli dilakukan melalui telepon. Barang pesanan biasanya diantar penjual ke tempat pembeli. Pada Selasa lalu polisi memeriksa AD, tetapi belum menetapkan dia sebagai tersangka.

Dua korban

Menurut Saiful, menyusul kematian keenam korban pertama, polisi menerima laporan dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta, tentang meninggalnya dua pasien rumah sakit tersebut yang diduga kuat akibat minuman serupa. Kedua korban bernama Eko (30) dan Toni (19), warga Kasihan, Bantul. Mereka masing-masing meninggal pada 7 dan 8 Februari lalu.

Kepada polisi, lanjut Saiful, AD mengaku membuat minuman oplosan lapen dengan mencampurkan air, alkohol, dan perasa buah (esens). ”Apakah kemudian dicampur zat lain, penyidikan masih dilakukan,” katanya.

Perbandingan campuran air dan alkohol adalah 7:1. Alkohol dan esens yang digunakan dibeli di toko kimia. Kadar alkohol yang dipakai 70 persen.

”Tidak ada campuran zat lain. Saya tidak tahu jika sesampai di rumah pembeli mencampurkan zat lain agar terasa lebih dahsyat,” kata AD yang mengaku baru lima bulan berjualan lapen, tetapi sudah tiga kali tertangkap dalam razia polisi dan menjalani peradilan tindak pidana ringan.

Satu kantong plastik lapen dijual Rp 2.500. Sehari AD dapat menjual 10-15 liter (lebih kurang 30-45 kantong) lapen. Pembelinya berasal dari Yogyakarta dan luar Yogyakarta.

Setelah banyak korban tewas, pada Selasa malam pedagang lapen di beberapa titik, seperti Dengung (Sleman) dan Jalan Solo (Yogyakarta), tutup. Menurut Saiful, kemarin polisi juga telah meminta keterangan tiga pedagang lapen lainnya.

Penelusuran Kompas, beberapa pembuat jamu tradisional mengaku biasa membuat minuman oplosan seperti lapen. Namanya kasanova (jamu dengan campuran alkohol, tebu, kayu manis, temu ireng, dan gula jawa). Kandungan alkohol dalam jamu itu di bawah 1 persen. Namun, pembeli ada juga yang meminta tambahan macam-macam, seperti anggur dan telur.

Menurut sejumlah pengonsumsi lapen, pembeli tidak jarang

menambahkan minuman ringan (soft drink) ke dalam lapen yang mereka konsumsi. Bahkan, ada yang menambahkan obat nyamuk atau cairan pembersih lantai. (wer)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau