Tiap tahun pada waktu dekat Sin Chia (Tahun Baru Tionghoa) nyonya-nyonya rumah sibuk membersihkan rumah, mengecat pintu dan jendela-jendela dan mengapur tembok. Tante-tante saya repot menyuruh pelayan-pelayan menumbuk ketan akan dibuat Kue Satu, yang dicetak di cetakan kayu,” demikian kenangan yang dituliskan Tio Tek Hong dalam Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959.
Ia ingat sekali, bersama adik-adiknya, selalu menantikan hasil cetakan kue satu yang dianggap buruk oleh para tante. Cetakan kue satu yang tidak bagus tak akan disuguhkan buat tamu, tapi dibagikan ke Tio dan adik-adiknya. Tak ketinggalan, “Baju dan celana baru dari sutera, disebut phangsi, yang hitam outiu dan yang putih pehtiu, bahkan sutera kuncir (thaucang) diganti yang baru,” tambah Tio.
Kembang api serta petasan juga tak lepas dari kenangan Tio kecil. Mercon, katanya, dibeli saudara tuanya untuk memeriahkan malam tahun baru dan hari raya Imlek. Selain melakukan paychia (memberi selamat tahun baru) kepada mereka yang lebih tua, ada hal yang paling dinantikan yaitu angpau (amplop berwarna merah berisi uang).
Kenangan tentang Sin Chia, Imlek, atau tahun baru Tionghoa, tak hanya milik Tio Tek Hong. Firman Lubis menyatakan, di awal 1950-an warga Tionghoa masih merayakan Imlek dengan meriah, kue keranjang ikut memeriahkan toko dan warung milik warga Tionghoa. “Kami juga sering mendapat kiriman kue keranjang dari tetangga atau kenalan orangtua saya,” begitu Firman menulis dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja. Rumah dan tempat usaha warga Tionghoa dihiasi berbagai ornament seperti lampion, pemain barongsai juga unjuk kebolehan di tempat keramaian atau berkeliling. Demikian juga pemusik tanjidor yang, umumnya dimainkan orang Betawi, berkeliling ke rumah atau tempat usaha orang Tionghoa untuk mendapat angpao.
Sementara itu, James Danandjaja dalam Folklor Tionghoa menuliskan sebuah kepercayaan warga Tionghoa menjelang Imlek. Yaitu tentang Dewa Dapur. Bukan hanya Tio Tek Hong yang dalam kenangan menjelang Imlek menyebutkan soal bebersih rumah. Pasalnya bersih-bersih rumah menjelang Imlek itu memang harus dilakukan karena sudah jadi kepercayaan warga Tionghoa bahwa sepekan menjelang Imlek, Dewa Dapur akan berangkat ke Langit/Tuhan untuk melaporkan semua peristiwa di dunia di tahun yang lewat. Agar laporan sang dewa kepada Tuhan, baik atau berbau hal-hal manis, maka pada bibir Dewa Dapur – kertas merah bergambar rupa Dewa Dapur yang biasanya digantungkan di tembok dapur – dioleskan madu.
Kehidupan bebas merayakan tradisi dan budaya Tionghoa ini sempat terhenti mulai akhir 1950 dan berlanjut hingga almarhum Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden RI ke-4 pada tahun 1999. Kini, setelah hari raya Imlek bahkan sudah diakui sebagai hari libur nasional, perayaan menjelang Imlek hingga habis masanya nanti, yang disambut dengan perayaan Cap Go Meh, menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang selalu dinantikan warga, tak hanya Tionghoa.
Sekian puluh tahun yang hilang akibat tekanan politik pada masyarakat Tionghoa sejak 11 tahun belakangan kembali hadir, seperti ingin menggantikan ribuan hari yang hilang ketika warga Tionghoa seakan “dilarang” menjadi Tionghoa. Warga dari suku lain pun menjadi “buta” akan tradisi dan budaya yang menarik milik suku ini.
Untunglah ada seorang dengan pandangan yang jauh ke depan seperti Gus Dur. Kekayaan dan keragaman budaya Jakarta pun menjadi makin lengkap dengan berbagai festival, hari raya, dan perayaan yang tumbuh dari tradisi di tanah Tiongkok. Pecinan Jakarta pun ikut semarak dengan peragaaan barongsai, nuansa warna merah, kelenteng yang berdandan, berbagai makanan khas Imlek, dan masih banyak lagi.
Sebagai cara ikut bersukacita, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menggelar acara Jelajah Malam: Tahun Baru Imlek di Pecinan pada Sabtu 13 Februari 2010 mulai pk 17.00. Menurut Kartum Setiawan, ketua KJB, ongkos jalan-jalan ini Rp 80.000/peserta. “Bisa menghubungi nomor 0817 9940 173 atau ke kartum_boy@yahoo.com, “ tandasnya.
Perjalanan ini menyusuri kawasan Pecinan, melihat suasana malam tahun baru Imlek, melihat kesibukan klenteng berusia ratusan tahun, gedung-gedung tua, dan tentunya nuansa dan suasana Pecinan itu sendiri.
Dari catatan Warta Kota, Klenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) di Petak Sembilan dibangun pada 1650 oleh Letnan Tionghoa Guo Xun Guan (Kwee Hoen) untuk menghormati Guan Yin (Kwan Im). Selain itu ada Klenteng Toa Se Bio di Jalan Kemenangan, masih di Petak Sembilan, dan dari klenteng inilah setiap perayaan Cap Go Meh akan digelar acara Gotong Toapehkong, sebuah tradisi yang sempat terhenti sejak akhir 1950.
Masih dari catatan Warta Kota, tak jauh dari sini Kim Tek Ie (Dharma Bhakti) ada gang bernama Gang Torong, sebuah gang yang diberi nama atas dasar keberadaan observatorium pertama di Batavia, Observatorium Mohr yang dibangun 1765 dan kelar pada 1768. Johan Maurits Mohr adalah pendeta yang punya minat besar pada bidang astronomi. Lokasi asli observatorium itu di Jalan Kemenangan Raya dan nama Gang Torong masih digunakan untuk nama gang yang dipercaya sebagai lokasi menuju rumah Mohr yang sekaligus adalah peneropongan bintang milik.
Pada masa ketika rumah sekaligus observatorium Mohr masih berdiri bagaikan menara (toren), kawasan ini bernama Torenlaan. Toren dilafalkan warga lokal sebagai torong jadilah Gang Torong. Johannes Rach, pelukis Jerman, merekam situasi kawasan di sekitar observatorium Mohr. Yaitu bahwa letaknya tak jauh, persisnya di sebelah kanan belakang, dari Klenteng Kim Tek Ie. Lokasi bangunan Mohr itu kini berubah menjadi perkampungan padat di dalam gang.