Presiden: Mari Bersatu, Berdoa, dan Bekerja

Kompas.com - 13/02/2010, 10:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus bersatu, berdoa, bekerja, dan berzikir bersama tanpa memandang perbedaan identitas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan masyarakat yang baik.


Hal itu dikemukakan Presiden dalam acara zikir bersama nasional di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Sabtu (13/2/2010) pagi, yang dihadiri oleh ratusan jemaah sekalipun hujan gerimis mengguyur Jakarta sejak dini hari.

"Kita harus bersatu sebagai umat dan hamba Tuhan, ... kita tentu ingin membangun masyarakat yang baik dan menuju masa depan bangsa yang baik," kata Presiden yang pagi itu mengenakan kemaja putih.

Seluruh rakyat, kata Presiden, tidak peduli latar belakang, etnis, agama, dan budayanya harus bersatu padu mewujudkan cita-cita bersama. Menurut Kepala Negara, masyarakat yang baik yang menjadi cita-cita bangsa adalah masyarakat yang santun, beretika, toleran, dan jauh dari perilaku adu domba, fitnah serta taat pada pranata hukum dan sosial.

"Lalu apabila memiliki kebebasan, kebebasan itu digunakan dengan benar," katanya. Sambil sesekali terdengar bunyi petir di kejauhan, Presiden melanjutkan sambutannya dengan harapan agar Tuhan meridai permohonan yang baik dari rakyat Indonesia, permohonan akan keselamatan dan persatuan bangsa.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan doa para jemaah. "Atas nama negara dan pemerintah serta pribadi saya ucapkan terima kasih kepada para hadirin yang turut berdoa dan berzikir bersama," kata Presiden yang hanya memberikan sambutan sekitar 10-12 menit mengingat hujan yang tak kunjung reda dan di antara para jemaah terdapat anak-anak.

Acara zikir yang bertema "Berzikir untuk Indonesiaku" itu diadakan oleh Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Majelis Dzikir Nurul Musthofa, dan Forum Habib Nasional itu baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB di tengah-tengah hujan gerimis. Namun, para jemaah telah berdatangan sejak pukul 06.30 dengan menggunakan sejumlah bus.

Selain kalangan orang dewasa, di antara jemaah yang rata-rata berpakaian serba putih atau hitam itu tampak juga anak-anak balita dalam gendongan orangtuanya.

Ketika hujan makin deras, para jemaah di tanah lapang mulai membuka payung, sedangkan sisanya pasrah diguyur air hujan mengingat panitia tidak mempersiapkan tenda bagi mereka.

Di area tersebut hanya terdapat tiga buah tenda, yaitu sebuah tenda utama berukuran lebih kurang 5 x 7 meter yang menghadap salah satu pintu gerbang Monas, yang menghadap ke arah Bank Indonesia, dan dua buah tenda yang lebih kecil.

Tenda utama ditempati oleh para habib yang memimpin zikir, Presiden Yudhoyono dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, antara lain Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, Menko Polhukan Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, dan Menko Kesra Agung Laksono.

Sementara dua tenda yang lain yang berukuran lebih kecil diperuntukkan bagi Ibu Ani Yudhoyono dan para istri serta tenda wartawan.

Sekitar pukul 07.30 salah seorang habib telah mulai memimpin doa bersama di tengah rintik hujan. Habib, yang berdiri di bawah lindungan tenda utama itu sehingga tidak terkena air hujan, memohon agar hujan tersebut membawa berkah bagi bangsa Indonesia. Hal itu disambut dengan kata "amin" oleh jemaahnya.

Namun, gerimis yang makin rapat membuat sejumlah orang merangsek turut berlindung di tenda wartawan.

Anehnya, dari sekian banyak orang yang turut berlindung di tenda tersebut adalah justru kalangan pria, bukannya perempuan dan anak-anak. Ibu-ibu tampak khusuk berdoa di bawah hujan, ketika gerimis makin deras baru ada beberapa orang yang menitipkan anaknya ke tenda wartawan.

Presiden Yudhoyono beserta rombongan tiba di lokasi acara sekitar pukul 08.00 WIB, yang dilanjutkan dengan doa bersama sekitar 35 menit yang dipimpin oleh salah seorang habib.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau