Analisis ekonomi

BUMN, Berpijarlah!

Kompas.com - 15/02/2010, 03:20 WIB

Oleh FAISAL BASRI

Di luar perkiraan banyak kalangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan keempat 2009 mencapai 5,4 persen, relatif jauh lebih tinggi daripada tiga triwulan berturut-turut sebelumnya yang sebesar 4,4 persen pada triwulan pertama, 4,0 persen pada triwulan kedua, dan 4,2 persen pada triwulan ketiga. Dengan lonjakan pada triwulan terakhir tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2009 bisa mencapai 4,5 persen.

Yang juga cukup menggembirakan, kesenjangan pertumbuhan antara sektor jasa (non-tradable) dan sektor penghasil barang (tradable) kian menyempit. Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan sektor non-tradable rata-rata 5 persen (percentage point) lebih tinggi daripada sektor tradable. Adapun pada triwulan keempat 2009 selisihnya hanya 1,9 persen saja.

Patut pula dicatat bahwa kesenjangan yang menyempit itu tak hanya disebabkan oleh kemerosotan pertumbuhan sektor non-tradable, tetapi juga ditopang oleh kenaikan pertumbuhan sektor tradable. Bahkan kenaikan ini terjadi merata di ketiga sektor, yakni pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur. Sektor yang terakhir tumbuh 4,2 persen, jauh lebih tinggi ketimbang tiga triwulan sebelumnya yang cuma sekitar 1,3 persen hingga 1,5 persen.

Ada satu sisi yang selama ini nyaris luput dari perhatian publik, yakni peranan badan usaha milik negara (BUMN) dalam perekonomian cukup menonjol. Pada tahun 2008, seluruh aset BUMN bernilai Rp 1.964 triliun atau sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, pada tahun yang sama, pendapatan seluruh BUMN mencapai Rp 1.200 triliun atau sekitar 24 persen PDB.

Perlu dicatat bahwa nilai sebagian besar aset BUMN masih belum disesuaikan berdasarkan nilai pasar sehingga seharusnya nilai aset tersebut jauh lebih besar daripada nilai buku sekarang.

Sayangnya, kehebatan BUMN dari segi berbagai ukuran tidak diimbangi oleh kinerjanya. Hampir semua indikator kinerja usaha BUMN kalah jauh dibandingkan dengan swasta, misalnya dalam hal return on assets (ROA) ataupun return on equity (ROE). ROA seluruh PTPN yang menguasai 1,4 juta hektar lahan pada tahun 2005 hanya 6 persen, sedangkan Astra Agro Lestari yang hanya menguasai lahan seluas 0,3 juta hektar menikmati ROA sebesar 25 persen. Padahal, lahan yang dikelola Astra Agro Lestari tergolong berkualitas rendah dan berlokasi di pelosok, sedangkan lahan PTPN tergolong kelas satu, yang kebanyakan berlokasi di dekat jalan raya dan pelabuhan.

Membandingkan dengan BUMN negara tetangga akan lebih miris lagi. Laba satu BUMN di Malaysia (Petronas) mengalahkan laba semua BUMN di Indonesia.

Tak usah membayangkan kinerja BUMN membaik seperti perusahaan swasta sejenis atau sekelas BUMN di negara-negara tetangga sehingga bisa membuat perekonomian kita terbang tinggi. Cukup dengan sekadar meningkatkan kinerja 50 persen saja dari yang sekarang. Mari kita lihat gambaran kasarnya.

Keberadaan BUMN cukup merata dan menonjol di hampir semua sektor. Di sektor pertanian ada hampir 30 BUMN, kebanyakan cukup besar. Di pertambangan ada Pertamina, Aneka Tambang, Tambang Batu Bara Bukit Asam, PT Timah, PT PGN, dan beberapa lagi yang relatif kecil. Kedua sektor ini saja sudah menyumbang 26 persen PDB. Katakanlah peran BUMN di kedua sektor tersebut sekitar 25 persen, maka dengan mudah kita bisa menghitung sumbangsih dari peningkatan kinerja BUMN di kedua sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi.

Belum lagi kalau kita masukkan peranan BUMN di sektor industri manufaktur. Di sini ada BUMN yang menjadi market leader, seperti kelompok Semen Gresik, Krakatau Steel, dan kelompok farmasi (Indo Farma, Kimia Farma, Bio Farma); ada pula yang memegang posisi monopoli (pupuk).

Semua BUMN yang berada di sektor tradable, termasuk yang tertera di atas, berpotensi menjadi ujung tombak percepatan pertumbuhan ekonomi dan penopang revitalisasi industri sehingga industrialisasi kembali ke jalur normal.

Salah satu kunci keberhasilan adalah bagaimana menciptakan sinergi BUMN intrasektor ataupun antarsektor. Bagaimana, misalnya, kebutuhan gas untuk industri pupuk dan kegiatan-kegiatan padat-energi terpenuhi oleh BUMN migas. Sementara itu, industri pupuk menghasilkan berbagai jenis pupuk majemuk sesuai dengan kebutuhan PTPN berdasarkan produk yang dihasilkan dan kondisi tanah.

Adapun sinergi intrasektor bisa dilakukan dengan program komplementaritas antara BUMN baja (Krakatau Steel) dan BUMN konstruksi baja (PT Barata Indonesia dan Boma Bisma Indra). Selanjutnya mereka bisa jadi pemasok andalan bagi PT Pindad, PT PAL, PT DI, dan PT Inka.

Dengan bersinergi, tak sulit membayangkan kita bisa membangun basis industri yang kokoh, yang menghasilkan industri mesin dan perkakas, yang bisa dikembangkan untuk memproduksi berbagai peralatan pertanian dan permesinan bagi kebutuhan industri kecil dan menengah.

Kita pun memiliki BUMN yang mengelola kawasan industri di sejumlah daerah: Jakarta, Makassar, Medan, dan Batam.

Sungguh cukup banyak dan beragam potensi yang kita miliki.

Potensi yang belum sepenuhnya terwujud tak kalah banyak di sektor non-tradable. Di sektor transportasi dan telekomunikasi, posisi BUMN sangat dominan. Demikian juga di sektor keuangan, konstruksi, dan utilitas.

Dengan demikian, di sektor non-tradable pun, peranan BUMN masih cukup besar.

Jika kita memperlakukan BUMN-BUMN tersebut sebagai suatu kesatuan potensi, tak berdiri sendiri-sendiri, bisa dibayangkan betapa besar eksternalitas yang bakal tercipta bagi kemaslahatan perekonomian secara keseluruhan.

Tak berlebihan, oleh karena itu, untuk membayangkan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 6,5 persen, bukan 5,5 persen sebagaimana target APBN 2010. Asalkan, sejak sekarang, pemerintah sungguh-sungguh mereposisikan BUMN, terutama yang memiliki peran strategis.

Seandainya pemerintah konsisten hendak memadukan potensi semua BUMN dengan konsep sinergi dan eksternalitas, maka penilaian keberhasilan BUMN tidak boleh lagi berat pada besarnya laba yang disumbangkan bagi APBN, melainkan seberapa besar BUMN bisa menggerakkan roda perekonomian. Pada gilirannya, kalau tujuan ini telah berhasil, niscaya BUMN akan memberikan kontribusi lebih besar pula bagi kocek pemerintah.

Berpijarlah BUMN!

Faisal Basri Pengamat Ekonomi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau