Pertikaian Argentina-Inggris Meningkat, Terkait Malvinas

Kompas.com - 17/02/2010, 16:02 WIB

BUENOS AIRES, KOMPAS.com — Argentina, Rabu (17/2/2010), meningkatkan pertikaian dengan Inggris menyangkut pengeboran minyak di Malvinas. Argentina memerintahkan semua kapal yang menuju ke Kepulauan Malvinas harus melalui perairannya dan meminta izin dari Buenos Aires.

Presiden Argentina Cristina Kirchner telah menandatangani satu keputusan yang memicu meningkatnya ketegangan menyangkut kepulauan Las Malvinas, nama Spanyol untuk pulau-pulau yang pernah menjadi pangkalan perang kedua negara tahun 1982 dan menewaskan hampir 1.000 orang. "Semua kapal yang ingin bergerak antara pelabuhan-pelabuhan di Argentina dan pelabuhan-pelabuhan di kepulauan Malvinas, atau yang akan memasuki perairan Argentina ketika menuju pulau-pulau itu harus mendapat izin," demikian isi keputusan itu.

Kepala Staf Kirchner, Anibal Fernandez, menegaskan, tindakan itu bertujuan untuk  mengawasi dengan ketat kapal-kapal yang mungkin membantu Inggris melakukan operasi untuk menyelidiki cadangan minyak dan mineral di kepulauan yang oleh Inggris disebut Falkland itu. "Keputusan itu bertujuan untuk mempertahankan tidak hanya  kedaulatan Argentina, tetapi juga semua sumber alam di daerah itu," kata Fernandez. Ia menambahkan, satu komite permanen tingkat pejabat tinggi akan dibentuk untuk mengawasi kapal-kapal.

Argentina melancarkan satu protes terhadap London tentang pengeboran di dasar laut sekitar pulau-pulau yang mengandung sampai 60 miliar barrel minyak itu, berdasarkan  studi-studi geologi yang dilansir media Inggris.

Sebuah kapal penarik yang menarik alat-alat pengebor sumur minyak milik Inggris  akan tiba dalam beberapa hari untuk mulai menyelidiki minyak dan masalah itu sudah menimbulkan ketegangan awal bulan ini ketika Buenos Aires menghalangi satu kapal yang membawa pipa-pipa yang katanya menuju Malvinas. Pihak berwenang Argentina naik ke kapal "Thor Leader" berbendera asing di pelabuhan Campana, Argentina selatan, setelah mengetahui kapal itu membawa kargo pipa-pipa yang digunakan untuk industri miyak dan agaknya menuju Malvinas.

Bueos Aires sangat marah karena London tetap melanggar resolusi-resolusi PBB yang menyerukan kedua negara itu untuk melakukan dialog kembali mengenai kedaulatan Malvinas. "Kami ingin menegaskan kewajiban untuk menyelesaikan pertikaian antara Inggris dan kami dalam kerangka hukum internasional dan resolusi-resolusi PBB," kata Kirchner, Selasa.

Inggris, Januari lalu, menolak klaim terbaru Argentina atas kepulauan yang dikuasai dan didudukinya sejak tahun 1833. Kantor Kementerian Luar Negeri di London berusaha mengabaikan tindakan terbaru Argentina dalam pertikaian tersebut dengan mengeluarkan satu pernyataan yang lunak, yang menunjukkan secara jelas sikap resminya.

"Peraturan-peraturan yang menetapkan wilayah perairan Argentina adalah urusan pihak berwenang Argentina. Ini tidak berdampak pada perairan wilayah Kepulauan Malvinas  yang dikuasai oleh pihak berwenang pulau itu," kata pernyataan itu.

Pernyataan itu mengatakan, Argentina dan Inggris adalah mitra-mitra penting dan berjanji akan bekerja sama menyangkut masalah di Atlantik Selatan, tempat terletak Kepulauan Malvinas. Buenos Aires mendesak dilakukan penyelesaian sesuai dengan apa yang Inggris setujui bagi Hongkong sebagai wilayah China.

Inggris dan Argentina sama-sama mengklaim kepulauan Malvinas yang meledak menjadi perang tahun 1982 setelah militer Argentina menduduki pulau-pulau itu, tetapi kemudian kalah serta diusir oleh pasukan angkatan laut Inggris. Perang itu berlangsung 74 hari dan menewaskan 649 tentara Argentina dan 255 serdadu Inggris.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau