Warga Akan Direlokasi

Kompas.com - 18/02/2010, 04:05 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Warga di Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang tinggal di bantaran sungai akan segera direlokasi. Keberadaan rumah mereka, selain berbahaya bagi penghuni, juga menjadi salah satu penyebab banjir rutin tiap tahun di wilayah itu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Udjwalaprana Sigit menyatakan hal itu, Rabu (17/2) di Bandung. Rumah di bantaran sungai mengurangi peresapan air dan mempercepat pendangkalan sungai. ”Hal yang berbahaya, arus sungai yang deras bisa menyeret orang,” katanya.

Pelaksanaan relokasi akan dilakukan Tim Penanggulangan Banjir Baleendah dan Dayeuhkolot di bawah koordinasi BPBD Jabar. Tim akan mendata jumlah rumah, tingkat kerawanan, survei daerah relokasi, dan menyosialisasikan kepada masyarakat. ”Pelaksanaan diperkirakan sebelum akhir 2010. Yang pasti tempat relokasi tidak jauh dari tempat sekarang,” kata Sigit.

Saat meninjau lokasi banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot, Rabu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono berjanji mendorong percepatan solusi banjir tahunan di wilayah Baleendah dan Dayeuhkolot. Hal itu antara lain dengan membuka forum diskusi antara pemerintah pusat, pemerinyah provinsi, dan pemerintah kabupaten.

”Februari ini pembicaraan antara pemerintah pusat dan daerah akan dilakukan di Jabar melibatkan kementerian terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pekerjaan Umum,” kata Agung.

Dari Cirebon dilaporkan, tanggul Sungai Cimanuk di Blok Keman, Desa Sukawana, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, jebol, Selasa (16/2) sekitar pukul 22.00. Luapan air sungai membanjiri sawah di sekitarnya. Akibatnya, 100 hektar tanaman padi siap panen terendam.

Di Kota dan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, banjir mengakibatkan 10 titik tanggul jebol, dua titik plengsengan ambrol dan sebuah jembatan ambruk, Selasa sore. Sedikitnya 120 penduduk terisolasi dan lebih dari 100 hektar sawah terendam.

Luapan air Sungai Bakung, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, yang berarus deras mengakibatkan jembatan sepanjang 15 meter yang menghubungkan Dusun Pilangbango dengan Dusun Genengan ambruk. Warga Dusun Genengan kini terisolasi.

Tanggul jebol terjadi di Desa Jati, Kecamatan Tarokan. Menurut Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Badan Kesbanglinmas Kabupaten Kediri Sri Ilham Wahyu Jatmiko, Desa Jati merupakan tempat pertemuan tiga sungai besar, di antaranya Sungai Kolokoso dan Bakung.

Tanah longsor

Di Purwakarta, jalur kereta api (KA) antara Cikampek dan Bandung terputus selama tujuh jam akibat tanah longsor di tiga titik antara Ciganea dan Sukatani, tepatnya di Desa Cijantung, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Akibatnya, jalur ditutup sejak hari Selasa pukul 21.30.

Lokasi longsor berada di lahan miring. Menurut Sulaiman (33), warga Desa Cijantung, longsor telah beberapa kali terjadi di lokasi itu karena tanah labil.

Kepala PT KA Daerah Operasi II Bandung Suseno menyatakan, timbunan akibat longsor di Kilometer 114+4/5 dan 112+9 selesai dibersihkan pada Selasa malam. Satu dari dua jalur di Kilometer 112+4/5 dibuka pada Rabu pukul 04.30. Kereta melintas dengan kecepatan diperlambat, 5 kilometer per jam.

Sedikitnya 12 rangkaian KA dari Bandung menuju Jakarta, Rabu, terlambat sekitar satu jam, antara lain KA Argogede, KA Parahiyangan, KA Serayu, dan KA Harina.

Sejak Selasa malam, alat berat dan ballast (kerikil) dikirim dari Padalarang sehingga perbaikan rel dapat segera dikerjakan.

Menurut pengamat KA dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Hidayat, struktur jalan rel KA antara Ciganea dan Sukatani harus diperkuat agar tidak terjadi lagi longsoran.(NIK/REK/THT/CHE/GRE/RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau