Fokus

Pelajaran Berharga dari Mumbai...

Kompas.com - 19/02/2010, 09:44 WIB

Oleh Doty Damayanti

KOMPAS.com - Mumbai bukan kota yang nyaman untuk dilihat pada saat hari terang. Kolong jalan layangnya, selain menjadi rumah bagi para tunawisma, juga menjadi tempat pembuangan taksi dan bajaj rusak.

Lalu lintasnya kacau. Akan tetapi, hampir di tiap sudut kota tampak pembangunan jalan layang, monorel, dan rumah susun baru. Aktivitas itu menjadi pertanda ekonomi yang sedang menggeliat.

”Itu tanda bahwa kami sedang membangun. Sepuluh tahun lagi kami akan lebih maju daripada Shanghai,” kata Dhanraj, sopir taksi yang biasa menunggu penumpang di depan Hotel Grand Hyatt, Santa Cruz, Mumbai, India.

Pernyataan yang terdengar agak jemawa, memang, karena dia pun hanya melihat kemajuan Shanghai lewat siaran televisi. Namun, keyakinan Dhanraj itu membuat saya tergelitik. ”Kami bisa mengerjakan semuanya sendiri,” ujarnya lebih mantap lagi.

Ini adalah ungkapan sederhana yang mengingatkan kita pada ajaran lama ”Bapak Bangsa” India, Mahatma Gandhi. Swadesi! Berasal dari kata swa yang berarti sendiri dan desh yang berarti negara. Penerapan semangat swadesi dalam kegiatan ekonomi India saat ini diimplementasikan dalam bentuk menyinergikan potensi yang dimiliki untuk mencapai kemajuan. Selain potensi sumber daya alam, kekuatan lain yang dimiliki India adalah kemampuan mereka berinovasi.

Bersama Brasil, Rusia, dan China, India menjadi kelompok negara yang pertumbuhan ekonominya sangat memengaruhi ekonomi global. India terus berupaya menjaga pertumbuhan ekonominya tetap di level 6 persen per tahun meskipun sempat terimbas krisis global. Guna menyokong itu semua, segala upaya dilakukan, termasuk penguasaan sumber energi.

Pengelolaan pasokan energi untuk kepentingan industri dipegang langsung pemerintah pusat melalui sejumlah kementerian. Sumber daya alam yang penting itu diurus langsung pemerintah pusat melalui satu kementerian khusus. Ada kementerian yang khusus mengelola batu bara, kelistrikan, pemanfaatan energi terbarukan, pemanfaatan gas alam, sampai pemakaian air dan tenaga nuklir.

Berdaulat

Dengan jumlah penduduk 1,15 miliar orang, Pemerintah India menyadari betul tekanan yang dihadapi dari pertambahan penduduk. Pertambahan penduduk harus diimbangi pertambahan energi. Oleh karena itu, sektor kelistrikan merupakan salah satu infrastruktur penting yang diprioritaskan.

Ketika India merdeka dari Inggris pada 1947, kapasitas pembangkit listriknya hanya 1.538 megawatt (MW). Dalam waktu 60 tahun, kapasitas terpasang itu meningkat 100 kali lipat. Saat ini kapasitas terpasang pembangkit listrik India mencapai 156.000 MW dengan batu bara sebagai bahan bakar utama. Indonesia? Baru sekitar 30.000 MW!

Dengan penggunaan batu bara yang sedemikian besar, India juga mengalami tekanan dari dunia internasional untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida. Saat ini India menyumbang 5 persen dari seluruh emisi gas karbon dioksida dunia. Namun, dengan keyakinan mereka memiliki teknologi untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida, Pemerintah India telah menyatakan tidak akan mengerem pertumbuhan ekonominya.

”Kami punya hak untuk mengejar pertumbuhan. Bahkan, dengan pertumbuhan yang agresif pun kami masih jauh berada di belakang negara-negara maju,” ujar Menteri Lingkungan Hidup India Jairam Ramesh.

Argumentasi tegas yang hanya bisa dilontarkan pemerintahan berdaulat, yang tak mau diatur pihak lain. Semangat yang juga bersumber pada ajaran Gandhi, swaraj.

Ada perasaan miris ketika membandingkan India dengan Indonesia. Ketika Pemerintah India mencanangkan penambahan pembangkit sebesar 42.000 MW dalam lima tahun ke depan, serta-merta semua industri kelistrikannya dikerahkan guna mendukung proyek tersebut.

Semua menikmati kemajuan bersama. Sementara itu, Indonesia yang bermaksud mengadopsi cara serupa gagal mendapatkan manfaat maksimal karena ketidaksiapan industri di dalam negeri.

Kondisi serupa juga terjadi dalam pengelolaan energi. Potensi sumber daya alam dimanfaatkan sepenuhnya untuk menghidupkan industri-industri penting di dalam negeri. India melindungi cadangan energi strategisnya dari penguasaan pihak luar.

Dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang sedemikian cepat, India telah berpikir jauh ke depan untuk menguasai sumber energi di negara lain, termasuk di Indonesia. Nah!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau