JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena banjir menjadi rutinitas yang selalu dihadapi warga ibu kota Jakarta. Hampir setiap tahunnya di musim penghujan, ancaman banjir seolah menjadi tamu yang selalu siap mengetuk pintu rumah warga Jakarta.
Tidak bisa ditampik bahwa banjir memang telah menjadi masalah besar tidak hanya pada saat ini, tetapi jauh-jauh hari, bahkan saat Jakarta masih bernama Batavia. Tampuk kepemimpinan terus berubah, tetapi masalah banjir tetap menjadi persoalan yang belum menemukan penyelesaian.
Pada setiap musim penghujan, di sejumlah wilayah tenda-tenda pengungsian korban banjir seolah menjadi tanda bahwa tamu tahunan tersebut sudah datang. Hiruk pikuk warga korban banjir yang mengungsi menjadi sebuah lagu lama. Toh, banjir akan datang lagi.
Meski demikian, warga bantaran Sungai Ciliwung mengakui telah terbiasa dengan kondisi lingkungan di tempat mereka tinggal. Bahkan, ketika pemerintah akan merelokasi kepada para warga di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, justru muncul kekhawatiran apakah mereka akan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru mereka nanti.
"Kami sudah 13 tahun di sini. Ngontrak sih. Mau sih pindah, tapi ini lingkungannya sudah enak," kata Aminah kepada Kompas.com, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).
Pemerintah memang berencana merevitalisasi bantaran Kali Ciliwung dengan memindahkan sekitar 70.000 kepala keluarga (KK) atau sekitar 350.000 warga yang berada di bantaran Kali Ciliwung, mulai dari jembatan Kampung Melayu sampai ke dekat pintu air Manggarai. Rencananya, warga akan dipindahkan ke rumah susun baru.
Namun, agaknya masih banyak warga yang menolak rencana tersebut. Aminah mengatakan, rumah susun yang dibangun pemerintah terletak jauh dari tempat kerja suaminya.
"Wong bapaknya (suaminya) juga masih susah. Kan bapaknya dagangnya di daerah sini," ujarnya.
Di sisi lain, tarif untuk membayar rumah susun sewa dinilai masih jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan ongkos sewa rumahnya saat ini.
"Sewanya mahal, bagaimana kami mau pindah. Saya sudah di sini sejak dulu, sewa rumahnya dulu cuma Rp 30.000 apa ya. Sekarang sih sudah naik," sebutnya.
Faisal, Ketua RW 03 Kampung Melayu, menyatakan, warganya telah akrab dengan banjir. Bahkan, bencana tahunan ini dianggapnya sebagai suatu berkah.
"Sudah biasa sih. Itu anak-anak saja senang kalau banjir bisa main air," kata ayah enam anak ini.
Mengungsi juga dianggap sebagai rekreasi bagi Faisal dan keluarga. Betapa tidak, saat bencana banjir menghampiri, otomatis serbuan bantuan baik bahan makan maupun logistik akan diterimanya. Dia juga bisa berkesempatan untuk berjumpa dengan berbagai tokoh penting yang biasanya mengunjungi korban banjir di tempat pengungsian.
"Ini kan kalau banjir bisa ketemu banyak tokoh. Ada wapres, mantan wapres, anggota DPR juga banyak ke sini. Kalau enggak banjir, mana mau mereka nengokin kami," ujarnya.
Mamat Sahroni, warga RW 07 Bidara Cina, juga mengatakan hal senada. Menurut dia, seluruh anggota keluarganya bisa berenang dan telah terlatih menghadapi banjir.
"Sudah biasa tuh. Kalau banjir kami bertahan di rumah, kecuali kalau parah tinggi banget. Kalau ada apa-apa, tinggal berenang saja, sudah biasa," katanya enteng.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang