Jarang Kumpul Anak dan Suami (Bagian 2)

Kompas.com - 22/02/2010, 12:09 WIB

KOMPAS.com - Biasanya orang akan lebih menemukan pasangan hidupnya dari lingkungan yang sama. Bagaimana pengalaman Sri Parmini, brigadir jenderal (Brigjen) perwira staf ahli tingkat II kawasan Eropa dan Amerika Serikat staf ahli bidang hubungan internasional TNI AD?

Sri tidak pernah menyangka akan bertemu jodohnya saat telah bertugas di mess Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdikowad) di Bandung. Saat itu, anak pertama dari empat bersaudara ini tinggal di mess bersama teman-temannya.

''Satu mess itu isinya 15-20 orang. Nah, saat itu ada satu pria yang bukan angkatan (bukan perwira, RED) suka main ke mess kami,'' kenang Sri.

Pria itu adalah Achmad Kaelani. Sosoknya yang charming dan percaya diri membuat Sri jatuh hati. Sri merasa sedikit heran, mengapa Achmad tampaknya tidak minder saat bertandang ke mess. Ternyata, Achmad juga datang dari keluarga Angkatan Udara, dan ada kerabatnya yang juga tinggal di mess tersebut. Karena itu, wajar bila Achmad terlihat tidak canggung lagi berhadapan dengan dunia militer.

Di mata Sri, Achmad sosok yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Menurutnya, pria harus bisa menjadi imam yang baik, dan bertanggungjawab dengan masa depan, karena ia akan menghidupi istri dan anak-anaknya. Namun kesibukan Sri tidak membuat dirinya mampu mempersiapkan pernikahan dengan segala atributnya.

''Saat itu enggak ada pingit-pingitan 40 hari khas orang Jawa. Saya saja baru pulang ke Boyolali tiga hari sebelum menikah,'' tandasnya.

Lamaran pun dilakukan hanya antara orangtua Sri dan Achmad di Boyolali. Jadilah mereka menikah di tahun 1984. Saat itu usia Sri 27 tahun. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai dua anak, perempuan dan laki-laki. Sebenarnya Sri ingin memiliki banyak anak. Tetapi ada peraturan khusus di militer, dimana anggotanya hanya diperbolehkan memiliki tiga anak.

Long distance relationship

Sri harus menjalani long distance relationship dengan keluarganya. Ia tetap menjalani tugas di Bandung, sedangkan suami dan kedua anaknya tinggal di Jakarta. Dengan kehidupan seperti ini, jelas Sri tidak dapat melakukan sebagian tugasnya sebagai ibu, misalnya menyiapkan sarapan atau mengantar anak ke sekolah. Sang suami lah yang sehari-hari mengasuh buah hati mereka.

Perempuan berkulit hitam manis ini merasa bersyukur keluarganya terbiasa hidup mandiri, meski tanpa kehadiran dirinya. ''Suami dan anak-anak amat mendukung saya. Mereka tidak pernah protes selama yang saya lakukan memang didedikasikan untuk pekerjaan,'' jelasnya.

Karena sering ditinggal ke Bandung, sejak kecil anak-anak tidak tergantung dengan ibunya. Bahkan pada tahun 1995, Sri kembali melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad). Saat itu Arif Widyatmoko, anak bungsunya, baru berusia 20 bulan.

Meskipun tidak setiap hari bertemu, komunikasi keluarga ini tidak pernah putus. Urusan sehari-hari bisa diatasi melalui telepon. Pada akhir pekan barulah Sri bisa mengunjungi suami dan anak-anaknya. 

''Sambil bermain dengan anak, saya belajar. Caranya, buku yang tebal itu saya rangkum. Bukan dengan tulisan, melainkan dengan merekam suara di kaset kecil. Selain berisi rekaman suara saya, sesekali rekaman saya selingi dengan suara anak saya. Jadi kalau sedang di Bandung saya bisa mendengarkan suara anak lewat rekaman itu. Hitung-hitung kangen terbalaskan sambil belajar,'' jelasnya.

Beruntung Sri memiliki pembantu rumah tangga yang cekatan, Hartini namanya. Seluruh pekerjaan rumah tangga ia serahkan pada Hartini. Selama 20 tahun ini, perempuan ini yang membantu merawat anak-anak Sri. "Saya mempercayakan uang belanja, mengurus dan menjaga anak, dan juga kebutuhan rumah tangga lainnya. Saya tidak lagi menganggap dia pembantu, tapi juga saudara,'' paparnya.

Kehidupan serbamandiri ini berlangsung hingga anak-anak semakin besar. Si sulung, Ratih Pujiati, kemudian melanjutkan pendidikannya di Magelang. Untuk mengumpulkan kembali keluarga yang terpencar-pencar ini, Sri mengajak suami dan bungsunya mengunjungi Ratih di Magelang setiap akhir pekan.

Baru pada tahun 2008, keluarga ini berkumpul di Jakarta sejak Sri bertugas di Cilangkap. Ia mengaku amat bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut, dan anak-anak yang mandiri. ''Ada maknanya, anak-anak saya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain,'' katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau