Singapura Keluarkan Kebijakan untuk Dinginkan Pasar Properti

Kompas.com - 22/02/2010, 19:58 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Mungkin tidak terjadi penggelembungan properti di Singapura, namun Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong hari Minggu (21/2/10) mengatakan, langkah yang dilakukan belum lama ini untuk mengekang spekulasi, memang dibutuhkan. Ini penting untuk menghindari tindakan yang lebih drastis lagi kelak.

Harga-harga yang melesat tinggi menjadi kepedulian Pemerintah Singapura. Jumat pekan lalu, sebuah langkah baru dibuat untuk mendinginkan pasar properti, mengantisipasi sebelum segala sesuatunya lepas kendali.

Bea Materai Penjual dikenakan terhadap seluruh properti hunian yang terjual dalam waktu satu tahun pembelian, sementara pinjaman dari institusi keuangan disumbat sampai 80 persen.

Pada jamuan makan malam Tahun Baru Imlek di Teck Gheen, Lee mengatakan, pemerintah tidak dapat mengontrol harga properti, namun dapat memastikan harganya tetap terjangkau.

PM Singapura mengatakan, "Tolong hal ini djaga. Jangan berpikir menjual cepat-cepat atau membuat uang dengan cepat. Karena jika Anda menjual itu dan Anda tidak dapat menemukan rumah lagi untuk ditinggali atau Anda tidak memiliki rumah di usia tua, ini akan menjadi masalah besar."

Lee menambahkan, rumah adalah salah satu investasi jangka panjang, yang dapat menjadi penyangga pada usia senja, atau dapat diwariskan kepada anak-cucu. Namun ini membawa Lee pada kepedulian lain - bahwa orang Singapura tidak cukup bereproduksi.

Lee mencatat rendahnya tingkat kelahiran orang Singapura merupakan refleksi dari perubahan yang mendasar di seluruh Asia.

Tingkat fertilitas secara total di Singapura turun menjadi 1,23 tahun lalu, bahkan tingkat Chinese Singaporeans lebih rendah pada angka 1,09.

Di China misalnya, beberapa anak muda mengiklankan diri untuk membuat percaya pacar mereka dari tekanan keluarga pada Tahun Baru Imlek.

Lee mengatakan, "Ini menyenangkan, tetapi sekaligus menyedihkan. Saya lega bahwa saya belum mendengar laporan tentang adanya anak-anak muda yang menyewa di Singapura. Saya harap itu tidak terjadi. Tetapi saya tahu anak-anak muda merasakan tekanan yang sama."

Lee menambahkan beberapa tekanan sosial mungkin bermanfaat, tetapi dukungan keluarga akan membawa anak-anak muda Singapura ke arah yang benar.

Sementara itu di tempat terpisah, Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Mah Bow Tan hari Minggu berkomentar soal langkah yang dibuat untuk mengekang spekulasi dalam pasar properti. 

Menurut Mah, lebih baik mengambil langkah kecil dan prreventif untuk mendinginkan pasar properti, daripada memecahkan persoalan ketika gelembung properti benar-benar terjadi.

Mah menegaskan dia tidak menentang kenaikan harga properti, namun ketika tanda-tanda bahaya sudah kelihatan, langkah preventif harus segera diambil. 

"Apa yang kita lihat sekarang, pertemuan faktor-faktor misalnya tingkat bunga rendah, sentimen positif. Saya pikir itu tanda-tanda bahaya. Jadi kita harus membuat sebuah penilaian apa yang akan terjadi. Ini merupakan pilihan antara tidak melakukan sesuatu dan membiarkan kerimbunan diambil alih dan kemudian mengambil tindakan ketika segala sesuatu sudah terlambat," tandasnya. (Channel News Asia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau