Akbar Faisal: Pemerintah Panik

Kompas.com - 28/02/2010, 19:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota panitia khusus hak angket perkara Bank Century Akbar Faisal menyatakan pemerintah memperlihatkan kepanikan secara terbuka, sehingga melakukan segala cara untuk menutupinya.

"Persoalannya, kepanikan itu diperlihatkan secara terbuka," kata anggota panitia khusus dari Fraksi Hanura itu saat diskusi Memprediksi rekomendasi akhir Pansus di Rumah Perubahan, Jakarta, Minggu (28/2/2010).

Lebih lanjut, Akbar menjelaskan, karena panik, maka segala cara dilakukan pemerintah. Ia mencontohkan, dari lobi hingga pemunculan berbagai kasus dilakukan pemerintah.

Akbar menjelaskan, tiba-tiba muncul isu reshufle, reposisi koalisi, pajak dan sebagainya. "Ini membuat kita bingung. Padahal, Pansus sudah terbuka sejak awal dan data serta fakta sudah terbuka," kata Akbar.

Akbar menjelaskan bahwa DPR melaksanakan fungsi kontrol dan DPR bukan mitra pemerintah. Akbar menyoroti staf khusus presiden bidang Lingkungan Hidup Andi Arief, yang giat melobi partai.

"Andi Arief itu urusannya bencana. Seharusnya, dia di Ciwidey. Kenapa malah melakukan lobi politik. Ini kebablasan," kata Akbar.

Menurut Akbar, yang dilakukan Pansus merupakan hal biasa, yang diatur dalam konstitusi. Selain itu, tambahnya, Pansus sebenarnya menindak lanjuti pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menginginkan perkara Bank Century dibuka sejelas-jelasnya.

"Kami melakukan yang diminta presiden, buka sejelas-jelasnya. Ketika dibuka, kenapa pemerintah jadi takut?" kata Akbar.

Diskusi tersebut juga menghadirkan anggota Pansus dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, pengamat ekonomi Ekonid Hendri Saparini, pakar hukum tata negara Irman Putra Sidin, tokoh Gerakan Indonesia Bersih Adhie Massardi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau