Bentrokan di Masjid Al Aqsa, 17 Orang Terluka

Kompas.com - 01/03/2010, 07:53 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com – Sebanyak 17 belas orang, termasuk dua tentara Israel, terluka dalam bentrokan di kompleks Masjid Al Aqsa, Minggu (28/2), setelah polisi masuk untuk menangkap warga Palestina yang telah melempar batu ke pengunjung yang mereka percaya sebagai ekstremis Yahudi.

Bentrokan itu terjadi setelah beberapa hari protes terhadap rencana Israel untuk merenovasi dua tempat suci lain yang diperselisihkan di Tepi Barat, yang diduduki dan dikecam sebagai ”provokasi” lagi oleh pemerintah otonomi Palestina dukungan Barat.

Puluhan warga Palestina melemparkan batu kepada polisi Israel yang membalas dengan gas air mata dan peluru karet dalam bentrokan di dekat tembok Kota Tua berusia 400 tahun di Jerusalem timur yang diduduki oleh Israel pada 1967 itu.

Juru bicara polisi, Micky Rosenfeld, mengatakan, tujuh orang telah ditangkap dan dua dari orang-orangnya cedera, sementara sumber Palestina menyatakan, sedikitnya 15 orang terluka dalam konfrontasi itu.

Pasukan keamanan masuk kompleks itu ”sebagai tindakan berjaga-jaga” setelah jemaah Muslim melemparkan batu ke kelompok pengunjung tak dikenal, kata Rosenfeld, tapi sebagian besar kekerasan itu sudah mereda.

”Seluruh Kota Tua tenang dan ribuan wisatawan diperbolehkan mengunjungi kompleks itu,” ujar Rosenfeld.

Adnan Husseini, pejabat Komite Tertinggi Islam Jerusalem, mengatakan, warga Palestina itu melemparkan batu ke orang-orang yang mereka yakini sebagai ekstremis Yahudi yang bermaksud berdoa di tempat itu dan mengganggu status quo yang rentan gesekan.

Orang-orang Yahudi, yang merayakan hari besar Purim pada Minggu dan Senin, diperbolehkan masuk ke kompleks itu, tetapi pemerintah melarang mereka berdoa di tempat tersebut.

Palestina menyampaikan rasa kesalnya atas insiden itu dan ketua juru runding, Saeb Erakat, meminta ”intervensi mendesak” dari AS untuk minta Israel menghentikan serangannya di Al Aqsa dan dua tempat suci lain di Tepi Barat.

”Tak masuk akal kebijakan Israel ditujukan untuk menghancurkan upaya internasional dan khususnya upaya Pemerintah AS untuk memulai kembali proses perdamaian yang serius dan sejati,” katanya.

Raja Abdullah II dari Jordania, yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1994, juga memperingatkan bahwa agresi provokatif Israel di Al Aqsa akan menghadapi reaksi berbahaya dan dapat mengancam upaya perdamaian regional.

Sementara itu, gerakan Hamas, yang memerintah Jalur Gaza, mengecam apa yang mereka katakan sebagai ”serangan kotor Zionis... yang menargetkan identitas rakyat Palestina, kepercayaannya, dan identitas semua negara Islam”.

Kompleks Masjid Al Aqsa adalah tempat tersuci ketiga umat Islam setelah Mekkah dan Madinah dan dipercaya umat Islam sebagai tempat Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj.

Itu juga tempat tersuci di dunia bagi orang Yahudi yang percaya itu adalah tempat Kuil Kedua yang dibakar oleh tentara Romawi pada tahun 70 sebelum Masehi.

Tempat itu telah diperselisihkan dengan sengit selama beberapa dasawarsa dan perlawanan Palestina, atau intifada, kedua meletus di tempat itu pada September 2000 setelah kunjungan Ariel Sharon, politikus sayap kanan yang akan menjadi Perdana Menteri Israel.

Kekerasan juga meletus di tempat itu pada beberapa kesempatan, mulai September lalu, setelah jemaah Muslim melemparkan batu kepada orang-orang yang mereka percaya sebagai esktremis Yahudi, tetapi menurut Pemerintah Israel adalah wisatawan Perancis.

Kekacauan terakhir itu terjadi setelah beberapa hari kerusuhan di kota Al-Khalil (Hebron) di Tepi Barat karena rencana Israel untuk merenovasi Makam Patriarch, tempat kuno lain yang dihormati oleh orang Yahudi dan Muslim.

Rencana itu, yang juga mencakup Masjid Bilal (Makam Rachel) di Bethlehem, telah membuat marah Palestina dan dikritik AS sebagai tindakan umat Islam umat Islam ”provokatif” yang dapat merusak upaya untuk melancarkan kembali pembicaraan damai Timur Tengah yang telah terhenti saat Perang Gaza lebih dari satu tahun lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau