Kesekian Kali, Bendera Demokrat Dibakar di Depan KPK

Kompas.com - 01/03/2010, 13:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ratusan massa menggelar aksi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Rabu (24/2/2010). Massa yang berasal dari Kapak, Ampera, AMN dan sejumlah elemen mahasiswa memaksa masuk ke Gedung KPK.

Selain memaksa masuk ke Gedung KPK, massa juga melakukan aksi bakar bendera Demokrat dan sejumlah atribut bergambar SBY-Boediono, tepat di depan Gedung KPK. Namun, aksi bakar tersebut tak berlangsung lama. Seorang petugas kepolisian yang berjaga langsung memadamkam api dengan air.

Massa yang terdiri dari anak muda tersebut, berusaha menembus barikade ratusan petugas Polda Metro Jaya yang tengah berjaga. Beberapa orang demonstran juga berusaha melakukan aksi provokasi dengan melempari petugas dengan air kemasan dan sandal. Untung saja, provokasi tersebut tak memancing tindakan represif dari kepolisian.

Mereka memaksa masuk ke Gedung KPK dan membakar bendera Demokrat, karena massa menilai KPK tidak serius menangani kasus Century, sehingga KPK belum memeriksa Boediono dan Sri Mulyani. "Seharusnya, Boediono dan Sri Mulyani diperiksa. Dengan hasil Pansus Century sudah jelas-jelas mereka adalah yang harus bertanggungjawab atas skandal Century Rp 6,7 triliun. Kenapa KPK hanya diam saja," teriak koordinator aksi Laode Kamaluddin.

Karena banyaknya massa, jalur lambat Jalan Rasuna Said sempat tak bisa digunakan. Bahkan, jalur cepat pun ikut tersendat, karena banyak pengendara yang menepi melihat aksi tersebut.

Setelah menggelar aksi di depan Gedung KPK, massa bergerak menuju Gedung DPR RI Senayan Jakarta, untuk menggelar aksi yang sama. Lalulintas di depan Gedung KPK, kini kembali normal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau