Dipukul Mundur, Massa Malah Tambah Banyak

Kompas.com - 02/03/2010, 14:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tercerai-berainya massa demonstran akibat dipukul mundur oleh polisi antihuru-hara di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/3/2010), rupanya tidak bertahan lama. Perlahan-lahan massa kembali merangsek menekan ratusan pasukan antihuru-hara mendekati Gedung DPR. Massa belakangan malah bertambah banyak.

Sebelumnya, konsentrasi massa berhasil dipecah belah polisi menjadi terpencar di tiga titik. Satu terdorong ke arah Slipi dan satu lagi terdesak mundur kembali ke arah Semanggi. Adapun massa yang terjebak di tengah alias di depan Gedung DPR terpaksa bertahan di tengah kepungan polisi.

Menjelang sore ini, jumlah demonstran semakin bertambah dan terus berdatangan, terutama dari arah Semanggi. Sementara massa lainnya berhasil masuk Jalan Gatot Subroto dengan memutar melalui Palmerah. Sejumlah besar massa mengenakan atribut bertuliskan Serikat Pekerja Nasional (SPN), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI). Mereka menolak kebijakan bail out dan meminta SBY, Sri Mulyani, serta Boediono segera mundur.

Banyaknya massa yang sebelumnya terpukul mundur berhasil kembali maju menekan polisi yang masih memasang barikade. Sempat beberapa kali polisi menembakkan gas air mata. Namun, amuk emosi massa kali ini agak mereda. Mereka belum kembali melempari polisi dengan batu seperti sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau